Loading

SCENE EMO DAN AKUISISI BIAR (KESANNYA) EKSKLUSIF

Oleh Alan Ahmad

Bawa skena ke ranah hukum? Ide bagus! Biar bisa dimonopoli, agar semuanya berbayar~

Kangen sama My Chemical Romance? sayang sekali band tersebut bubar jalan sejak beberapa tahun kemarin, meskipun ada desas-desus band pentolan Gerard Way akan reunian lagi sama Ray Toro, Frank Iero, bassist-nya Mikey Way, dan drummer Bob Bryar. Atau mungkin ada yang rindu sing along pake lagu The Bird And The Worm-nya The Used, atau lagi pengen nostalgia lagi sama band macem Alone At Last? juga Killing Me Inside-nya Onadio, dan band-band lainnya dengan warna musik yang sama?

Jadi inget tahun 2000an, dimana anak-anak muda pada zaman itu punya potongan rambut poni yang nutupin mata (atau bahkan sampe dagu), pakaian hitam-hitam ngetat dengan aksen-aksen gothic dan juga sepatu Macbeth. Ya, setelan dan musiknya sempat bikin heboh orang tua kita, pada masanya. Sampai-sampai guru-guru di sekolah pernah ngecap anak emo tuh anak-anak berandalan, dan/atau bahkan dicap pemuda setan! Ngeri, tapi keren, tapi ngeri.

Baru-baru ini ada segelintir oknum (sebut saja mereka tim mawar) yang dengan hebat dan gagahnya mengklaim nama kegiatan Emo Night itu adalah hak cipta mereka, segala kegiatan scene emo yang menggunakan nama Emo Night atau Emo Night JKT otomatis menjadi hak mereka pribadi. Hebat sih, yang penting pede biar dapet cuan banyak mungkin. Teman-teman dari Crowd Surfers ID juga punya klaim kalo scene Emo Night dan Emo Night JKT ini adalah hasil “working out” mereka sejak dua tahun ke belakang.
Wih keren!
Lebih hebatnya lagi, mereka mengeluarkan pernyataan seperti ini:
and if other people still wanna use them (nama Emo Night/Emo Night JKT, red.) then let’s do it baby we know the law.”
Gagah kan? jadi takut, jangan-jangan mereka itu kelompok illuminati yang ingin memonopoli segala aktivitas percuanan skena di sana-sini. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka adalah ormas garis keras yang didanai sama tokoh-tokoh berpengaruh? ngeri boskuu~

ngapa diapus, boskuu?

Biar begitu, kita ambil positifnya aja. Mungkin teman-teman dari Crowd Surfers memang ingin dapet cuan banyak dari klaim hak cipta Emo Night buat menanam banyak pohon seperti pornhub, atau mungkin abang-abang dan mpok-mpok ini punya banyak kebutuhan, mengingat apa-apa mahal sekarang karena rezim. Atau mungkin juga sebenarnya bro dan sis ini lagi punya niat mulia, seperti ngeberangkatin orang tua masing-masing untuk pergi haji. Semuanya mungkin aja, who knows?
Cuma saja kita jadi takut, jangan-jangan kedepannya semua hal yang berbau Emo jadi diklaim semuanya, mulai dari potongan rambut, gaya bermusik, pemutaran lagu Face Down-nya The Red Jumpsuit Apparatus, sampai sepatu Macbeth punya Mas Tom diakuisisi sama lu pada. Kita gak pernah tau…
Seru, muda-mudi mulai ada yang mengkapitalisasi satu kegiatan tertentu. Bibit-bibit doyan ngeribetin ala birokrasi dalam negeri akibat klaim satu golongan─dalam kasus ini, nama dalam scene musik─bisa dialami lagi didalam urusan skena musik dewasa sekarang, itung-itung nostalgia zaman Pak Harto, lah, isih penak jamanku to?
Pertanyaannya, saat kalian klaim urusan Emo Night/Emo Night JKT ini, kalian udah permisi sama musisi-musisinya? menggunakan karya lagu untuk kepentingan komersil kan harus ada izin dari yang empunya?

Tapi yang dilakukan abang-mpok ini gak salah kok, boleh-boleh saja. Buktinya kan di-approve sama negara. Yaa terserah lu-lu pade, dah.
Meskipun yang mereka lakukan ini bener, tetap saja ora pener (tidak bijak), begitu kata mbah Sudjiwo Tedjo.

So, kapan mau klaim night-night lainnya? Kapan mau klaim hak cipta nama Dangdut Night? kasian, musik khas nusantara selalu saja dianaktirikan sama muda-mudi. Atau mau klaim juga Organ Tunggal Night?
Silakan aja, asal anda untung.
Kalo yang lain buntung?
Sukurin~

Instagram

Listen on Spotify

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Realated Article

Shopping Basket