Loading

Lalala Festival: Biar Basah, Tetap Nyampah, Semoga Berkah!

“Lalapes a, lalapes!” begitu kira-kira jargon juru parkir agar kendaraan pengunjung tersusun rapi. Festival Musik dengan konsep acara di tengah hutan hujan telah berlalu. Banyak hal masih membekas di hati panitia, pengunjung, maupun pejuang-pejuang bermodalkan gawai dan jari-jari lincah. Lalala Festival menyisakan banyak kesan, baik kesan positif maupun kesan negatif, meskipun kelihatannya lebih banyak kesan negatif, sih.
Bicara soal kesan positif, panitia sukses menggiring muda-mudi dan sedikit orang tua agar hadir ke festival di tengah hutan pinus, tercatat belasan ribu pengunjung datang kesana. Acara pun berjalan dengan lancar & professional (secara teknis), terlepas dari banyaknya keluhan pengunjung. Patut diapresiasi.

jepretan @snawazaki & @gladinasaska
jepretan @snawazaki & @gladinasaska

Sayangnya, kesan negatif lebih banyak dari apresiasi positif. keluhan pertama yang patut jadi sorotan: kualitas sound system amat kurang oke! Untuk sekelas Lalala Festival yang didatangi belasan ribu pengunjung, masa sih kualitas sound-nya segitu doang?

Terus, booth air minum hanya tersedia 2 untuk 15ribu lebih pengunjung. Abis naik-naik ke puncak venue tenggorokan pasti aus, bro. Belum lagi toilet yang disediakan hanya sedikit. Yang mau buang aer gelisah sampai sekitar setengah jam. Untungnya gak ada pengunjung yang ngaburusut di venue. Kalo sampe kejadian, panitia mau tanggung jawab gitu?
Patut disayangkan juga, dengan kondisi di lapangan yang njelimet, crew & panitia hanya bisa planga-plongo. Entah kurang penyuluhan sebelum acara atau belum makan dari pagi. Hanya Tuhan dan panitia yang tahu. Belum lagi hujan, dingin, sendirian, kurang kasih sayang pula. Kasihan.
Belum lagi banyak sampah berserakan di sekitar Orchid Forest. Segala macam sampah ada, Jas Hujan, Puntung Rokok, Botol Plastik, Kaleng-kaleng kratingdong-deng, sampai kenangan nonton bersama mantan kekasih di Lalala tahun lalu berceceran dimana-mana.
Masih belum cukup juga kekecewaan penonton, seberes acara, setelah Honne, Sheila On 7, Joe Hertz, The Internet dll manggung, waktunya istirahat ke kasur masing-masing. Nahas bagi pengunjung, si dia sudah bersama yang lain mereka harus tertahan diperjalanan pulang karena di exit gate, macet parah karena jalan sempit sehingga kendaraan shuttle (menggunakan bus besar) tak bisa jalan kemana-mana. Belum lagi aji mumpung ojek dadakan Warga Kampung Sana, juga mobil-mobil pejabat sok penting menuh-menuhin jalan. Udah tahu sempit.
Antrean shuttle-nya pun gak puguh. Masih banyak pengunjung yang tidak kebagian naik shuttle. Sekitar jam 3.30, terjadi sedikit drama di pertigaan pintu masuk venue, sebagian pengunjung protes karena belum juga kebagian naik bus shuttle. Konon katanya, saat ini para pengunjung kampring tersebut masih menunggu dijemput bus yang tak kunjung datang.

Lalala Festival ini mendapat banyak cibiran di jejaring sosial. Akan oke-oke saja jika netizen yang budiman mengomentari shuttle yang gak puguh, sampah-sampah yang berserakan, toilet yang seadanya, atau juga panitia yang planga-plongo kayak ayam celup, karena memang perkara tersebut yang perlu dikritisi. Di media sosial ada juga netizen yang mengeluhkan venue becek gak karuan. Saran dari kami kalau anda ogah becek ya nonton aja dikamar kost. Ribet amat.
Ada juga orang-orang yang mengeluh capek harus jalan kira-kira 3kilometer-an untuk sampai ke venue. Disini kelihatan orang-orang sini manja & banyak mau. Gini nih kalo orang kaya Indo diajak dateng ke hutan. Lain kali gak usah nonton festival kalau ogah capek, mas/mbak!
Ada pula Netizen yang entah ikut entah enggak mengomentari ekspektasi venue yang bertentangan dengan realita di lapangan. Mereka mencibir lantaran bentuk tanah pijakan pengunjung yang bentuknya gak karuan. Logikanya memang kalo tanah berumput diinjek-injek ribuan orang ya ledok, gan/sis.

Setidaknya, acara Lalala Festival membuat kita mempelajari cukup banyak hal: uang tak bisa membeli ketahanan fisik (kecuali kalau nge-doping) kalau nonton digunung mbok ya gak usah ngeluh, pasti capek dengan segala kemungkinannya. Selanjutnya dikemudian hari panitia bisa memberi training biar crew yg ada di venue gak planga-plongo lagi. Juga di agenda selanjutnya, sebaiknya disediakan tempat sampah yang lebih banyak, agar aman dari kejamnya komentar SJW-SJW liar.

Terakhir, kami tahu pengunjung-pengunjung Lalala Festival yang budiman kecapekan, pegal, juga rungsing. Setidaknya sebagian dari pengunjung yang kebagian dapat menikmati burger & steak dari Suis Butcher dan Brother Jonn&Sons. Berbahagialah yang makan enak disana!

Kontributor: Cies Her

Editor: Rian Sting

Instagram

Listen on Spotify

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

You May Also Like

Shopping Basket