SPASIAL FO(U)R YEARS. UJUNG PERJALANAN SPESIAL DARI SPASIAL

Oleh Alan Ahmad

Kabar haru untuk para penggiat industri kreatif di Bandung, karena kita harus berpisah dengan Spasial. Ya, venue industri kreatif ikonik ini tak lagi beroperasi dan dengan berat hati harus mengucapkan selamat tinggal pada Spasial per 1 Mei 2019.

instagram.com/spasial

Mereka-mereka (orang-orang Spasial) ini memiliki tujuan untuk menghubungkan banyak manusia di satu tempat (yang tepat) juga memberdayakan khalayak yang terlibat didalamnya. Selama 4 tahun ini Spasial telah melibatkan banyak individu maupun kelompok dari berbagai macam latar belakang. Komunitas, badan usaha kreatif, dan institusi akademik, semua pernah menjadi bagian dari Spasial, begitupun sebaliknya. Tujuan mulia ini berhasil, meskipun dengan sangat berat hati harus berakhir prematur.

instagram.com/spasial

Tak akan kita lupakan banyak hal yang sudah dibuat disana. Video klip Kunto Aji ‘Topik Semalam’, showcase Komunal, release party ‘Mabuk Laut’ The Panturas adalah sedikit dari ratusan cerita yang terpatri di ingatan kita semua.

videografer eksentrik Fluxcup dalam pembuatan video klip Kunto Aji ‘Topik Semalam’ sumber: instagram.com/spasial

Venue yang beralamat di jalan Gudang Selatan nomer 22 beroperasi sejak april 2015 telah banyak merekam lebih dari 300 kegiatan seni, pameran, talkshows, fairs, pasar yang juga melibatkan lebih dari 100 komunitas, mitra, dan juga talenta-talenta kreatif kota kembang. Pencapaian tak biasa, hasil giat yang tak akan ada lagi penggantinya. Terimakasih Spasial, untuk 4 tahun yang spesial!

Pasar Malam Kampus Tiga XXIII : Los Marginados

Gelaran Pasar Malam Kampus Tiga kembali hadir! Acara tahunan anak-anak Fakultas Fisip Unpar ini kembali menyajikan hal-hal yang rasanya ‘jarang’ didapatkan di Kota Bandung. Pada tanggal 27 April 2019 mendatang, PMKT merayakan pagelarannya yang sudah 23 tahun, dan tahun ini akan diselenggarakan di Saparua Park. PMKT konsisten memberikan hiburan tiap tahun-nya dengan kemasan pasar malam yang benar-benar “pasar malam”. Kali ini, PMKT menggunakan frasa Los Marginados dalam penamaan-nya yang berarti “anak jalanan” atau “yang terpinggirkan” atau “orang buangan”dalam bahasa spanish. Panitia PMKT XXIII berusaha mengangkat fokusnya pada bidang pendidikan non-akademis dan pengembangan skill kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk merasakan bangku kuliah, sebagai pemaknaan dari frasa “Los Marginados”. Menurut mereka istilah “semua orang punya hak yang sama terhadap akses pendidikan” tidak menjadi relevan dengan apa yang mereka lihat di lapangan.

Berbagai hiburan siap untuk disajikan pada Sabtu nanti. The Panturas, Rasukma, Rendy Pandugo dan Hivi! resmi diumumkan sebagai jajaran pengisi acara untuk PMKT XXIII. Selain itu sesuai dengan tagline yang diusung yaitu “The Peak of Joyful Ride” pengunjung yang hadir akan disuguhkan dengan pengalaman menyenangkan melalui berbagai wahana yang disajikan seperti Kora-Kora, Bianglala, dan Balloon Castle, sehingga ketika kembali ke rumah bukan hanya membawa badan lelah tapi jiwa yang senang, pokoknya “Mens sana in corpore sano”. Selain wahana, ada juga art exhibition dan tentunya yang terpenting kumpulan bazzar makanan yang akan memastikan perut pengunjung tidak akan keroncongan. Terakhir, tentunya yang spesial dan akan selalu ada dalam PMKT tiap tahunnya adalah Rumah Hantu. Salah satu wahana yang selalu menjadi favorit muda-mudi Bandung ketika datang ke PMKT kali ini mengusung tagar #CircusofTheDead dan akan menjadi pembeda PMKT dengan pasar malam lainnya!

Tiket yang dijual hingga saat ini untuk Presale 3 yaitu Rp. 55.000 dan kemungkinan akan naik untuk pembelian OTS. Mengenai pemesanan tiket PMKT XXIII dan segala update mengenai keberlangsungan acara, lebih lanjut dapat dililhat pada akun media sosial instagram @pmktxxiii. Jadi sampai jumpa di Saparua tanggal 27 April 2019, Junkie!

CONNAN MOCKASIN, GIGS INTIM NAN MERIAH

Oleh Hutomo Wicaksono

2 april 2019 hari Selasa menjadi hari yang berbeda dengan hari lainnya, hari dimana saya biasanya siaran program After Sunset setiap pukul 19.00 – 20.30, sekarang malah asik menikmati konser yang dibuat oleh rekan-rekan pppost95 entertainment yang menyajikan hiburan musik oleh Pijar asal Jakarta, Golden Mammoth, band negara tetangga (Malaysia), lalu yang terakhir Connan Mockasin (Selandia Baru). Oh iya, saya hampir lupa bahwa acara ini diselenggarakan di Rossi Musik yang berada di Jl. RS Fatmawati No.30. Kemacetan lazim terjadi dikota ini sehingga saya pun harus menunggu lama dalam perjalanan yang akhirnya harus melewatkan penampilan Pijar sebagai penampil pertama dan dilanjutkan oleh Golden Mamoth yang bisa saya nikmati pada tiga lagu terakhir. Dengan suasana yang hangat, acarapun semakin meriah karena band yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pengunjung yaitu Connan Mockasin bersiap-siap untuk melanjutkan keberlangsungan acara. Acara ini, menurut saya bukan hanya sekadar gigs musik biasa yang menghadirkan pertunjukan unik dan berbeda, rugi lah mereka yang tidak menonton dan hanya dapat oleh-oleh berupa cerita belaka dari kawan-kawannya.
Kenapa bisa dibilang berbeda? Hal itu karena Connan sangat baik dalam mengatur flow penonton. Musisi dengan nama asli Connan Tant Hosford itu bermain gitar bersama dengan penonton hingga turun dari panggung dan meminta penonton duduk, membangun suasana keintiman dengan para penikmat yang hadir di Rossi Musik yang lebih seru lagi, Connan menyuruh penonton agar membuat dua barisan yang tengahnya dikosongkan laiknya mosh pit dalam konser metal. Dimaksudkan agar penonton melakukan slow dance dengan pasangannya didalam barisan yang kosong tersebut. Connan bermain sangat rapi walaupun sedikit lali karena seharusnya lagu yang ia bawakan pada lagu ke tujuh adalah lagu yang seharusnya dibawakan sebagai lagu penutup, namun hal itu bukan masalah mengingat musisi asal Te Awanga, Selandia Baru itu berhasil membius penonton dengan aksi panggungnya.

Sedikit cerita ketika saya menunggu Connan mulai, saya melihat-lihat booth merchandise dari Golden Mamoth. Ada pula merchandise konser Connan Mockasins, dan yang terakhir saya melihat penjaja kesegaran berwarna ungu yang saya cari-cari sebagai teman merokok. Sayang saya tidak dapat kesegaran tersebut karena keburu habis namun untungnya ada kawan yang bawa dari Bandung, hehehe. Pada acara ini saya dapat melihat perbedaan-perbedaan orang menikmati konser. Ada orang yang menikmati konser dengan mengejar dan merapatkan barisan paling depan agar dapat bertatap langsung dengan sang idola, lalu ada juga yang menikmati di barisan belakang penonton mungkin karena tidak ingin sesak atau agar mudah keluar meninggalkan venue.

Diambil Oleh Hutomo Wicaksono

Tahun ini penggiat gigs memang sedang dimanja-dimanjanya. Menyesal karena telah melewatkan beberapa performa menarik para musisi? Semoga di kegiatan selanjutnya tak lagi terlewat.

LOCUS POCUS; PAMERAN VISUAL ART YANG TIDAK MELUPAKAN SISI EDUKASI

Oleh Herry Ginanjar

Akhir bulan maret di 107 Garage room, Bandung tampaknya menjadi “agak” bernuansa cyberpunk, pasalnya pada tanggal (26/3) sampai tanggal (5/4) sekelompok muda-mudi Bandung seperti KANAL CREATOR dan CONVERT TEXTURED membuat kegiatan positif dengan membuat acara LOCUS POCUS, Locus pocus sendiri berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti “mantra di dalam sebuah ruangan”

KANAL CREATOR sebuah platform yang fokus terhadap visual graphics, art installation dan juga educative workshop, di event ini Kanal creator melakukan pendekatan konseptual melalui creator-creator yang terlibat di dalam exhibition yang bertujuan untuk menciptakan suatu peristiwa yang tak terduga dan mengesankan dengan cara mengubah hal-hal terlihat normal menjadi luar biasa. Bekerja sama dengan CONVERT TEXTURED, yaitu sebuah studio design & motion graphic asal Bandung, mereka membuat sesuatu yang mendorong imajinasi pengunjung untuk menciptakan suasana berbau futuristik. namun, merasa tidak ingin lupa dengan balutan Indonesia mereka juga mengajak ORCYWORLD sebagai visual dan performance artist untuk pengaplikasian pada “Jala” sebuah benda yang kental dengan tradisional.

Area 107 GARAGE ROOM pun disulap menjadi tempat bernuansa masa depan. Dibagi menjadi 3 lantai exhibition, Lantai pertama di isi dengan Instalasi “Jala” visual dan infinity mirror sukses membuat pengunjung terkesan dan tentunya menjadi spot foto favorit, sedangkan lantai dua di isi oleh laser dipadukan dengan led strip coding sekaligus dijadikan stage utama untuk pertunjukan musik yang di meriah kan oleh CIRCUIT BISCUIT, ETZA, bahkan band psychedelic asal negri JIRAN GOLDEN MAMMOTH. kemudian lantai 3 di isi oleh black hole neon yang dipadukan dengan instalasi visual logo Convert. Event locus pocus sendiri bukan hanya sekedar exhibition & performance saja tetapi ada sisi edukasi yang setiap hari nya dibagikan kepada pengujung, bahkan pemilihan speakers pun tidak sembarangan, Kanal creator dan Convert mengajak beberapa kolaborasi yang berkaitan dengan visual art dan semacamnya seperti: ADXITA, VIRTUALAB, MOKO DICSOVER, RASAMALA FILM, dan MUSIKATALOG.

“Dengan adanya event ini semoga pengujung bisa memanfaatkan ilmu yang telah di dapatkan nya dan bisa menjadi trigerred untuk viasual artist lainnya agar tidak malu untuk memamerkan karya-karya nya” tutur Aid selaku perwakilan dari Convert

Info Instagram; @kanalcreator & @convert.id

Lalala Festival: Biar Basah, Tetap Nyampah, Semoga Berkah!

“Lalapes a, lalapes!” begitu kira-kira jargon juru parkir agar kendaraan pengunjung tersusun rapi. Festival Musik dengan konsep acara di tengah hutan hujan telah berlalu. Banyak hal masih membekas di hati panitia, pengunjung, maupun pejuang-pejuang bermodalkan gawai dan jari-jari lincah. Lalala Festival menyisakan banyak kesan, baik kesan positif maupun kesan negatif, meskipun kelihatannya lebih banyak kesan negatif, sih.
Bicara soal kesan positif, panitia sukses menggiring muda-mudi dan sedikit orang tua agar hadir ke festival di tengah hutan pinus, tercatat belasan ribu pengunjung datang kesana. Acara pun berjalan dengan lancar & professional (secara teknis), terlepas dari banyaknya keluhan pengunjung. Patut diapresiasi.

jepretan @snawazaki & @gladinasaska
jepretan @snawazaki & @gladinasaska

Sayangnya, kesan negatif lebih banyak dari apresiasi positif. keluhan pertama yang patut jadi sorotan: kualitas sound system amat kurang oke! Untuk sekelas Lalala Festival yang didatangi belasan ribu pengunjung, masa sih kualitas sound-nya segitu doang?

Terus, booth air minum hanya tersedia 2 untuk 15ribu lebih pengunjung. Abis naik-naik ke puncak venue tenggorokan pasti aus, bro. Belum lagi toilet yang disediakan hanya sedikit. Yang mau buang aer gelisah sampai sekitar setengah jam. Untungnya gak ada pengunjung yang ngaburusut di venue. Kalo sampe kejadian, panitia mau tanggung jawab gitu?
Patut disayangkan juga, dengan kondisi di lapangan yang njelimet, crew & panitia hanya bisa planga-plongo. Entah kurang penyuluhan sebelum acara atau belum makan dari pagi. Hanya Tuhan dan panitia yang tahu. Belum lagi hujan, dingin, sendirian, kurang kasih sayang pula. Kasihan.
Belum lagi banyak sampah berserakan di sekitar Orchid Forest. Segala macam sampah ada, Jas Hujan, Puntung Rokok, Botol Plastik, Kaleng-kaleng kratingdong-deng, sampai kenangan nonton bersama mantan kekasih di Lalala tahun lalu berceceran dimana-mana.
Masih belum cukup juga kekecewaan penonton, seberes acara, setelah Honne, Sheila On 7, Joe Hertz, The Internet dll manggung, waktunya istirahat ke kasur masing-masing. Nahas bagi pengunjung, si dia sudah bersama yang lain mereka harus tertahan diperjalanan pulang karena di exit gate, macet parah karena jalan sempit sehingga kendaraan shuttle (menggunakan bus besar) tak bisa jalan kemana-mana. Belum lagi aji mumpung ojek dadakan Warga Kampung Sana, juga mobil-mobil pejabat sok penting menuh-menuhin jalan. Udah tahu sempit.
Antrean shuttle-nya pun gak puguh. Masih banyak pengunjung yang tidak kebagian naik shuttle. Sekitar jam 3.30, terjadi sedikit drama di pertigaan pintu masuk venue, sebagian pengunjung protes karena belum juga kebagian naik bus shuttle. Konon katanya, saat ini para pengunjung kampring tersebut masih menunggu dijemput bus yang tak kunjung datang.

Lalala Festival ini mendapat banyak cibiran di jejaring sosial. Akan oke-oke saja jika netizen yang budiman mengomentari shuttle yang gak puguh, sampah-sampah yang berserakan, toilet yang seadanya, atau juga panitia yang planga-plongo kayak ayam celup, karena memang perkara tersebut yang perlu dikritisi. Di media sosial ada juga netizen yang mengeluhkan venue becek gak karuan. Saran dari kami kalau anda ogah becek ya nonton aja dikamar kost. Ribet amat.
Ada juga orang-orang yang mengeluh capek harus jalan kira-kira 3kilometer-an untuk sampai ke venue. Disini kelihatan orang-orang sini manja & banyak mau. Gini nih kalo orang kaya Indo diajak dateng ke hutan. Lain kali gak usah nonton festival kalau ogah capek, mas/mbak!
Ada pula Netizen yang entah ikut entah enggak mengomentari ekspektasi venue yang bertentangan dengan realita di lapangan. Mereka mencibir lantaran bentuk tanah pijakan pengunjung yang bentuknya gak karuan. Logikanya memang kalo tanah berumput diinjek-injek ribuan orang ya ledok, gan/sis.

Setidaknya, acara Lalala Festival membuat kita mempelajari cukup banyak hal: uang tak bisa membeli ketahanan fisik (kecuali kalau nge-doping) kalau nonton digunung mbok ya gak usah ngeluh, pasti capek dengan segala kemungkinannya. Selanjutnya dikemudian hari panitia bisa memberi training biar crew yg ada di venue gak planga-plongo lagi. Juga di agenda selanjutnya, sebaiknya disediakan tempat sampah yang lebih banyak, agar aman dari kejamnya komentar SJW-SJW liar.

Terakhir, kami tahu pengunjung-pengunjung Lalala Festival yang budiman kecapekan, pegal, juga rungsing. Setidaknya sebagian dari pengunjung yang kebagian dapat menikmati burger & steak dari Suis Butcher dan Brother Jonn&Sons. Berbahagialah yang makan enak disana!

Kontributor: Cies Her

Editor: Rian Sting

Tokoin Road To Grand Launching: Perangkat Mutakhir Industri Bisnis.

Belum tahu? Untuk yang satu ini, seharusnya mulai sekarang cari tahu apa itu Tokoin. Untuk permulaan, kami bantu beri petunjuk secara garis besar mengenai Tokoin: Inovasi untuk kegiatan dagang era revolusi industri 4.0.
Cek bio Twitter @TokoinOfficial. Sudah? Disana dikatakan Tokoin adalah platform investasi lewat transaksi belanja produk bisnis. Secara sederhana, platform ini menawarkan banyak kemudahan dalam aktivitas jual-beli berbasis jejaring. Kebetulan, perusahaan yang dipimpin oleh Reiner Rahardja sebagai CEO ini akan segera menggelar Grand Launching dalam waktu dekat ini, tunggu & pantengin aja Instagram @tokoinofficial.

“Mewujudkan mimpi besar anda.” itulah kira-kira yang ditawarkan oleh Tokoin. “Kita tidak sedang membicarakan bagaimana caranya mendapatkan keuntungan ratusan juta rupiah perbulan. Kita sedang menawarkan anda cara bisa untung miliaran rupiah. From rock bottom to rockstar. Bagaimana usaha kecil yang selama ini dirintis agar jadi perusahaan unicorn bukan sekadar impian. Ke arah sana Tokoin membawa capaian anda”, itu yang disampaikan Mutia Rachmi selaku Project Manager Tokoin. Bicara soal cara kerja dan keuntungan dari platform ini, Tokoin memanfaatkan teknologi Blockchain untuk membangun identitas dan reputasi yang terabsahkan dari UMKM, juga menggunakan cryptocurrency, dengan valuasi pelapak berdasarkan data. Dengan begitu, pengguna tokoin dapat meningkatkan kredibilitas profil bisnisnya
Tokoin menawarkan solusi untuk mengatasi sejumlah hambatan yang dihadapi usaha rintisan dan pelaku bisnis UMKM, yang biasanya ribet dan cukup kesulitan mendapat suntikan dana untuk mengekspansi bisnis-nya. Tokoin ada untuk mempertemukan UMKM dan penyedia layanan keuangan yang sangat penting bagi perluasan bisnis UMKM, seperti bank, asuransi dan pengembang properti.   Dengan teknologi blockchain, data informasi dan latar belakang pelaku usaha yang kurang memenuhi standar reputasi yang diakui pemerintah dan institusi keuangan formal, akan diproses dan dievaluasi menjadi reputasi dan penilaian kredibilitas usaha. Sederhananya, jika anda punya usaha, anda punya banyak pelanggan tetap, namun butuh pinjaman dana untuk pengembangan usaha anda dan (biasanya) ditolak oleh bank-bank penyedia kredit usaha. Dengan Tokoin anda akan terbantu oleh data-data aktivitas bisnis anda. Karena peminjam butuh value usaha anda, dan data aktivitas anda adalah value-nya. Semakin banyak data yang anda punya, semakin tinggi reputasi bisnis anda, semakin besar juga value usaha anda. dengan cara tersebut peminjam dapat diyakinkan. Dan tak perlu khawatir dengan pencurian data tangan-tangan jahil, keamanan pengguna Tokoin dijamin karena menggunakan system keamanan yang kompleks. Berfungsi juga untuk mencegah fraud yang cukup banyak terjadi dlm aktivitas jual-beli online. Super canggih.

Tokoin sudah bekerjasama dengan Ralali.com, sebuah perusahaan marketplace business to business (B2B) terbesar di Indonesia, yang telah membantu UMKM untuk mengembangkan dan memperkuat bisnisnya secara digital. Sejak berdiri pada tahun 2013, Ralali.com telah merangkul lebih dari 250.000 UMKM sebagai pengguna platform Ralali.com. Dengan memilih Ralali sebagai mitra bisnis, Tokoin yakin akan mampu mempercepat gagasan bisnis yang mampu menjawab kebutuhan akselerasi dan perkembangan UMKM Indonesia dengan menggunakan teknologi blockchain. Dengan Ralali, kegiatan  jual-beli pedagang, pelanggan, maupun distributor jauh dipermudah. Rencananya, disana bakalan segala ada, apapun yang dibutuhkan pelaku usaha.

-Rian Sting

DALAWAMPU VARNAMAYA : Bukti Keberlanjutan Tradisi

Tahun 2019 ini tepatnya pada tanggal 26 Januari, SMA Negeri 20 Bandung kembali menggelar acara tahunannya, yaitu Dalawampu Varnamaya. Tradisi pagelaran pentas seni yang sudah ada sejak lama ini merupakan salah satu acara yang ditunggu-tunggu baik oleh warga SMAN 20 Bandung itu sendiri, maupun warga Bandung lainnya. Melihat dari sejarahnya, nama dari pentas seni SMAN 20 Bandung ini selalu identik dengan “XX” maupun “20”, lihat saja seperti AMA20N pada tahun 2012, atau EXXPLORATION pada tahun 2014. Namun sejak tahun 2015, telah terjadi penggantian nama menjadi “Dalawampu” mulai dari Dalawampu Mahalaga, Dalawampu Almaematers, Dalawampu Field of Vision, Dalawampu Calvantrist hingga yang terakhir kemarin Dalawampu Varnamaya. Namun apalah arti sebuah nama, yang terpenting sejak 10 tahun kemarin SMAN 20 Bandung berhasil dengan konsisten menjaga eksistensi di dunia pentas seni antar SMA di Kota Bandung !

Dalawampu Varnamaya yang memiliki kepanjangan “Variance, Nation, Musical, Youth art” ini bermaksud untuk mengajak masyarakat menemukan kebebasan dalam mengekspresikan warna-warni musik Indonesia. Terbukti dari pengisi acara yang hadir seperti Eden, Rasukma, Monica Karina & Nadin Amizah, Diphabarus, Rizky Febian, dan Naif, pentas seni ini memberikan warna-warni musik yang dapat memanjakan telinga pengunjung yang datang. Dipandu oleh Lazuardi dan Tomo dari Junks Radio, acara ini dimulai pada pukul 13.00 dan menghadirkan talent yang tidak kalah menarik dari band-band audisi. Selain musik, Dalawampu selalu memberikan daya tarik lain kepada pengunjungnya berupa instalasi seni hasil tangan panitia. Untuk kali ini Cassette Tape menjadi ikon utama sekaligus bentuk instalasi seni yang dipilih oleh panitia, tidak lupa sebelum masuk ke dalam venue juga terdapat gantungan bola-bola yang mempercantik tampilan di exhibition depan.

Sore menjelang malam, Eden menggebrak panggung dengan musik bernuansa alternative pop rock yang unik, setelah break, duo anyar asal Bandung yang sedang melejit yaitu Rasukma memberikan nuansa Folk yang mengiringi malam dan mengintimkan suasana. Pengunjung kian berdatangan, semakin malam venue semakin penuh, namun tetap nyaman untuk menikmati pagelaran. Selanjutnya, Rizky Febian, penyanyi muda yang ditunggu-tunggu oleh pengunjung dan tentunya Rizfelousindo (fan club Rizky Febian), bersiap untuk naik ke atas panggung. Sejak acara di mulai, Rizfelousindo ini terlihat memenuhi area depan venue hanya untuk menunggu idolanya naik ke atas panggung, edan juga antusiasnya! Keadaan semakin pecah ketika Rizky Febian menyanyikan salah satu lagu andalannya, yaitu “Indah pada waktunya” dan meminta penonton untuk menyalakan flashlight pada gawainya masing-masing. Semakin malam semakin panas, ditambah penampil selanjutnya yang menganut genre musik EDM. Ya, Diphabarus sukses membuat para remaja Bandung melompat-lompat dengan suguhan lagu yang tentunya sing along. Terakhir, untuk menutup acara, Naif band pop yang sudah malang-melintang di industri musik Indonesia menutup malam dengan sangat baik, lagu-lagunya yang tak lekang oleh waktu seperti Benci untuk mencinta, Mobil Balap, Air dan Api dan Jikalau mampu membuat para penonton yang hadir pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang carut marut.

 Melanggengkan persepsi bahwa Kota Bandung adalah kota kreatif, serta menunjukan bahwa pentas seni SMA masih ditunggu kehadirannya, para pelajar SMAN 20 Bandung ini menunjukannya dengan keberagaman musik yang ditawarkan dan dekorasi seni hasil sentuhan tangan panitia acara pada pentas seninya. Tak lupa juga adanya aksi sosial yang kali ini bekerjasama dengan ‘Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia’ dengan harapan sebagian keuntungan dari acara ini dapat disumbangkan untuk membantu anak-anak yang menderita kanker, semoga tercapai !

– kuya kumis