KONSER JOHN MAYER: ‘DM FOR PRICE’

Tujuan dari tulisan ini cuma satu: agar kita semua malu menjadi calo tiket.

Tahun 2019 kelihatan seru dibanding tahun-tahun sebelumnya, setidaknya begitu dikata orang-orang yang sedikit-banyaknya ikutan menikmati aktivitas hiburan musik. Bagaimana tidak? Tahun ini agenda-agenda kegiatan musik semakin banyak. Baik festival-festival (yang dijamin seru), maupun tur musisi luar yang mampir kesini untuk manggung.
Dan awal tahun ini masyarakat dimanjakan oleh John Mayer.  Pemusik asal Connecticut, Amerika Serikat dijadwalkan manggung di ICE BSD City pada 5 April tahun ini. Jelas ini merupakan daya tarik bagi orang-orang yang selama ini hanya menikmati karya-karya kerennya dari radio, youtube, maupun media streaming lainnya. Banyak orang menyambut dan mengapresiasi kegiatan ini, setidaknya sampai hari pemesanan tiket yang mulai dibuka hari jumat, tanggal 25 Januari 2019.

Fenomena cukup menggelitik terjadi pada saat dibukanya layanan pemesanan tiket. Terlebih lagi, perlu diingat sebagian banyak tiket dijual secara online. Dan seperti yang sudah diduga, dalam waktu singkat, tiket tersebut habis. Dan seperti yang sudah diduga juga—dan cukup bikin kesal­—muncul calo-calo dadakan, sayang sekali.

Kami sempat memeriksa ketika mulai dibukanya layanan tiket, kurang lebih jam 11. Tentu kami juga mencoba memesan tiket, yang tak aneh lagi, karena kebanyakan yang mengakses pada waktu bersamaan, sulit dijangkau akibat servernya kepenuhan. Dan kami urung untuk mengakses lagi, memang bukan rejekinya aja, sih.
Kami mencoba lagi mengakses situs yang menjual tiket tersebut, setelah salahsatu kawan mengunggah di instastory-nya, mengeluhkan tiket yang ludes dengan begitu cepat. Kawan kami ini juga mengeluhkan hal yang sama seperti kami, yaitu kesulitan mengakses situs tersebut.
Tak cukup memeriksa di Instagram, kami beralih ke twitter. Yang biasanya lebih banyak informasi yang lebih lengkap pemaparannya. Kami sontak mengumpat ketika melihat di linimasa ada cuitan seperti ini:


Sungguh menarik karena ketika kami coba menghubungi sekian banyak dari para calo, kami mendapati harga yang dipasang untuk 1 tiket kategori festival berada di kisaran 4-15 juta. Perlu diketahui, harga normal yang ditetapkan penyelenggara cuma 1.400ribuan.
Menarik untuk diperhatikan pula ketika salahsatu calo ini mengiklankan tiketnya untuk dibeli berdasarkan penawaran tertinggi. Bayangkan jika penawaran tertinggi berada di kisaran belasan juta, impian penggemar kelas pekerja—yang menabung berbulan-bulan—untuk nonton pelantun Gravity ini sayang sekali mesti kandas.
Ironis, budaya tak menghargai sesama penggemar terus dilestarikan seolah hal yang lumrah.
Orang-orang ini mengambil kesempatan untuk kesempatan untuk mencari tambahan pundi-pundi uang. Calo-calo ini dengan jemawa memasang harga yang jauh diatas harga asli tiketnya.  Kami beranggapan mungkin cuan dari hasil jualan tiket ini dipergunakan untuk belanja gawai baru, tambah-tambahin umroh orangtua, atau juga beli outfit hypebeast bernilai prestis biar bisa dipamerin di Instagram. Terpuji dan panjang umur untuk para calo!

Apa yang mereka lakukan ini (jelas kami sadar betul), bukan hal yang ilegal untuk dilakukan. Kami tahu pada terms & conditions yang diberlakukan,  1 KTP berhak untuk membeli maksimal 4 tiket yang disediakan penyelenggara. Tetap saja, jangan samakan kami dengan Viking, Bonek, Jak Mania, dan kelompok suporter sepakbola lainnya yang (meskipun tidak) oke-oke saja untuk beli tiket dari calo. Terlebih lagi, jika suporter bola gak kebagian tiket nonton sepakbola, mereka bisa manjat dinding stadion atau menunggu minggu depannya saat tim kesayangan mereka main lagi. Dear mas/mbak, hanya Tuhan dan John Mayer sendiri yang tahu kapan ia akan manggung lagi disini. Dan lagi, keberadaan calo sangat menggangu esensi konser musik untuk para penikmatnya. Pertimbangan dari penyelenggara dipertanyakan, karena setidaknya penyelenggara sudah lebih tahu dan lebih cerdas dari calon audiensnya kalau konser John Mayer jelas menjadi salahsatu acara musik yang paling diantisipasi  masyarakat.

Kami menawarkan 2 solusi, satu untuk penyelenggara dan satu lagi untuk penonton konser yang budiman.
Mungkin sudah saatnya bagi penyelenggara untuk memberlakukan sistem one ID-one ticket agar secara luas penggemar dapat menikmati aksi panggung idola mereka. Sedangkan untuk sesama penggemar yang budiman solusi dari kami adalah: sebaiknya anda tahu diri.

Kami tidak tahu apakah penyelenggara hanya sekadar cari untung dari acara ini atau memang ingin memanjakan penggemar. Yang jelas, setidaknya jika penyelenggara punya niatan untuk memanjakan penggemar, berlakukan juga sistem yang adil dan selaras dengan keinginan penggemar, bukan untuk yang lagi mencari kesempatan dalam kesempitan.

-Aris Disanto

Basa basi mengenai Ganja. Pro atau Kontra?

Secara historis, tanaman yang dapat tumbuh di ketinggian ++1000m diatas permukaan laut ini katanya ditemukan di dataran Cina sekitar tahun 2737 sebelum masehi. Tak kalah dengan Kolombia maupun Jepang, Indonesia juga diberi anugerah dengan ladang ganja nan subur di Aceh sana. Sejak jaman dulu hingga hari ini, Ganja banyak dimanfaatkan baik untuk keperluan spiritual, industri, kesehatan, atau rekreasi. 

Saya percaya, bahwa tuhan menciptakan segala tanaman dan hewan pasti memiliki manfaat. (walaupun hingga sekarang saya gatau gunanya si kecoa bagi kehidupan manusia itu apa, proteinnya banyak sih.. tapi saya mendingan makan pecin daripada harus ngunyah si binatang yang satu ini) 

Jube Tantagode dalam bukunya yang berjudul “Reggae : musik, spiritual, dan perlawanan” memaparkan bahwa Mariyuana atau yang kita kenal sebagai ganja, merupakan tumbuhan budidaya penghasil serat. Namun, orang-orang kebanyakan mengenalnya sebagai narkotika. Hal tersebut dikarenakan bijinya mengandung zat tetrahidrokanabinol (THC) yang mengakibatkan pemakainya merasakan euforia. 

Banyak sumber bilang, Kalo ganja dilegalin di Indonesia.. itu bisa memperbaiki ekonomi Indonesia. Saya sempet suudzon, mungkin Indonesia susah legal karena “si negara adikuasa” emang gamau Indonesia ngelola ganja dan menjadi kaya. Jadinya dibikinlah doktrin biar tetep ilegal aja. 

Raphael Mechoulam, salah seorang peneliti kimia berkebangsaan Israel sempat menganalisis tanaman ini di tahun 1963. Dilansir dari Natgeo, Lelaki yang dikenal sebagai bapak ilmu ganja ini telah mendedikasikan waktunya untuk nulis ratusan karya ilmiah dan juga memegang 25 persen hak paten untuk mendalami ganja. Mechoulam sendiri tidak menyetujui kalau si ganja ini dilegalkan untuk ajang rekreasi. Berdasarkan kajiannya, penggunaan jangka panjang ganja ber-THC tinggi bisa mengubah pertumbuhan otak yang sedang berkembang. 

Pro dan kontra mengenai ganja seakan tidak ada habisnya. Ada beberapa website yang menyatakan kalau ganja itu aman bagi semua orang dan tidak akan membuat kecanduan. Adapula yang menyatakan kalau mengonsumsi tanaman ini bisa memperparah penyandang skizofrenia. 

Tapi tetep aja, saya secara pribadi engga setuju dengan legalnya ganja secara keseluruhan di Indonesia. Kenapa? pertama, ketika bisnis ganja menggiurkan bakalan banyak pihak yang memutuskan terjun ke dunia perganjaan. Mereka yang nakal, bakalan bikin sintetisan yang tentu membahayakan kemudian dibikin harga semurah murahnya. Gak lucu juga, ketika online shop ngejualin ganja. Kemudian, seleb instagram diendorse ganja berbagai rasa. Para entrepreneur yang kreatif mungkin bikin gebrakan aneh-aneh, ada yang bikin keripik rasa ganja, lulur dengan aroma ganja, atau mungkin kue cubit toping ganja. 

Kedua, agar lebih aman mungkin Indonesia bakalan bikin pabriknya dimana ganja dibikin kemasan berbagai ukuran (kemudian si aset dibeli deh sama luar negeri, as usual..) Ketiga, menurut saya Indonesia belum siap mental. Kebayang ketika ganja dilegalin kemudian karena katanya ganja lebih sehat daripada rokok, para driver angkot dan pengamen pada ngeganja sesuka hati. weed and gun for everyone! Hahaha! Mungkin orang luar sana yang negaranya udah dilegalin jauh lebih ngerti untuk ngeganja di tempat seharusnya, mereka juga mungkin udah bisa dan paham dengan dosisnya. NAH, pertanyaannya adalah : apakah masyarakat Indonesia yang sebagian besarnya masih mikirin urusan perut, bisa ngedosis dan tau tempat untuk menggunakan ganja? 

Gitu, menurutku alasan paling tepat kenapa ganja jangan dilegalin karena masyarakat kita belum siap secara mental. Saya pun engga siap, nonton anak SD (yang udah pada ngerokok) mengganti rokok mereka dengan ganja. Kemudian teler pas pulang sekolah. Ga kebayang lah, ganja dijual di warung, terus diketeng.. Engga euy! 

Solusinya sih menurut saya, legalin ganja untuk medis aja. Itupun tetap dengan pengawasan biar engga dijualin atau disalahgunakan. Aibon buat ngerekatin barang aja dipake teler, obat anjing gila dipake buat teler juga, bensin aja diuyup. Yakin indonesia udah siap?