SIR DANDY: SINGLE BARU YANG SUDAH LAMA DITUNGGU

oleh Alan Ahmad

8 tahun sudah semenjak rilisan karya terakhirnya, Sir Dandy baru-baru ini mengeluarkan single terbaru dengan judul MRT (Mudah-mudahan Ramai Terus).

Musisi kelahiran Bandung ini dibantu oleh nama-nama kawakan dalam pembuatan karyanya. Diproduseri Riko Prayitno (yang juga main gitar dalam lagu ini), diiringi bassis Vincent Rompies, gitaris ternama Petra Sihombing, serta tak lain dan tak bukan, Soleh Solihun.

Dengan dilibatkannya nama-nama tersebut, alunan karya Sir Dandy semakin menghibur, terlebih bagi penggemar setia Sir Dandy, niscaya termanjakan. Makin ciamik lagi karena pada awal dan akhir lagu tersebut pendengar dibuat terhibur dengan humor speech dari Soleh Solihun.

MRT (Mudah-mudahan Ramai Terus) sudah bisa didengarkan di platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube, Deezer,dan kanal-kanal lainnya per 25 April 2019.

Sir Dandy – MRT (Mudah-mudahan Ramai Terus)

Kami lampirkan juga lirik lagu dari MRT karya Sir Dandy. Cocok buat sing along~

*****

Assalamu’ alaykum warrahmatullahi wabarakatu
selamat datang, para penumpang
di dalam em ar ti, asuhan Sir Dandy
terima kasih telah naik em ar ti
dan membantu mengurangi polusi
terima kasih juga kepada para pengendara mobil
yang sudah menyimpan mobilnya
dan memilih naik em ar ti
meskipun cicilan mobil masih harus anda bayar
setidaknya, uang bensin dikurangi
semoga selamat sampai tujuan
ingat, keluarga menanti
yang belum punya keluarga, yaa sabar saja
karena, stasiun sudah pasti menanti

problema hidup di jkt
habis waktumu di jalan raya
kita tak diberikan banyak pilihan
semua angkutan bikin tua dijalan

tapi jangan berkecil hati
apalagi sampai frustrasi
meskipun baru sampai bunderan HI
yang penting sudah mulai ada solusi

em ar ti em ar ti
kita punya em ar ti
puluhan tahun menanti
akhirnya jadi

em ar ti em ar ti
kita punya em ar ti
ide dari paha bibi
dieksekusi jokowi

o o o-jek dan taksi onlen
sedikit memang, memberikan bantuan
tapi bisa bertahan sampai kapan?
orang sudah kebulan, kita masih disetopan

tak seperti diluar negri
moda transportasinya tertata rapi
maklum namanya juga negara berkembang
gapapa telat yang penting kita senang

em ar ti em ar ti
kita punya em ar ti
kontroversi sana sini
akhirnya jadi

em ar ti em ar ti
kereta masa kini
komedi dan selebriti, rebutan selfie~

*****

[INTERVIEW] FEEL KOPLO: AWAS! INI KOPLO BUKAN SEMBARANG KOPLO

Ranah skena lagi-lagi gak ada habisnya. Hal yang menarik, setelah DISKORIA SELEKTA yang mempunyai tujuan mempopulerkan kembali lagu-lagu Indonesia di tempat klabing, kali ini hadir FEEL KOPLO dengan sentuhan magical koplofy nya mampu menghipnotis dede-dede Indie doyan ngeksis yang tak lagi minder ketika memposting Instastories dengan backsound musik koplo.

Dimulai tahun 2018 secara tidak sengaja dan mempunyai misi menghapus stigma bahwa mendengarkan  musik dangdut adalah hal yang memalukan, Feel Koplo tampaknya sukses melakukan misi itu, sebagai contoh mereka mendapatkan respon positif dari band luar negeri bahkan band punk yang terkenal menyeramkan luluh dengan karya mereka.


Simak hasil wawancara salahsatu oknum junkie, Herry Ginanjar dengan dua pemuda asal Bandung ini.

******

Herry: Perkenalan dong siapa aja kalian?

IKSAN: saya Iksan suka dipanggil Tempe,  punya orkes dangdut namaya SYMPHONI POLYPONIC

TENDY: saya tendy, saya introvert. Hahaha.

H: Pertanyaan pertama mendasar, awal mulanya bisa jadi Feel Koplo itu gimana?

I: Awalnya, sih,  dari ke tidak sengajaan saya yang disuruh jadi disc jokey selector todong oleh JUNKS RADIO buat bikin rame booth aktivasi mereka di salah satu festival musik di Bandung. Meski gak punya basic DJ dan punya alasan yang paling masuk akal yaitu biar bisa nonton festival musik gratis, akhirnya dengan berat hati saya memberanikan diri untuk tampil dengan cara yang gak biasa, saya yang punya kesenangan  lagu dangdut akhirnya mencari lagu-lagu yang mempunyai beat-beat dangdut seperti KOPLO dan BREAKBEAT, lalu dibikin tuh playlist dan pede aja muter playlist itu, eh, ternyata seru sampe ditegor sama panitia karena bikin gaduh band yang lagi perform hahaha. Dari situ pas mau tidur kepikiran pengen bikin project ini, kemudian besoknya pas mau ngambil izajah ke kampus ketemu si Tendi.

T: Iya saya tuh dulu sempet nge-produce lagu-lagu techno tapi vakum lama pisan. Eh ketemu si Iksan dan nanya  “Ten, bisa gak nge-remix lagu-lagu anti mainstream atau lagu indie jadi dangdut koplo?” saya jawab bisa, karena antusias besoknya hasil remix-an sayajadi dan lagu pertama yang dibikin tuh dari TEN2FIVE. Alasan si Iksan pilih lagu anti mainstream atau lagu-lagu indie juga karena kalo lagu Top 40 di daerah Jatim atau Jateng juga udah ada.

H: Kalo diperhatiin dari awal, FEEL KOPLO tuh Cuma satu orang, eh ada Tendy ternyata. Jadi sebenernya FEEL KOPLO berdua tuh tugasnya masing-masing apa aja?

T: Saya sih lebih dibelakang panggungnya, kaya bikin remix ngatur set list dan lain-lain.

I: Nah, iya. Kalo digambarin secara general Tendy bagian musik dan saya bagian visual, kalo saya yang bikin rame dipanggung dan bikin video yang ada di Youtube itu tuh ngedit visual-visual videonya sama saya. Pas manggung pertama juga gitu kan, Tendy bagian ngatur flow dan saya garda depan biar yang nonton lebih rame lah.

H: Terus, manggung pertama kalian di event mana dan respon dari orang-orang gimana?

I: Panggung pertama juga karena diajakin dari event temen, Namanya PESTA RAKYAT, hasil videonya cobain masukin youtube, eh, responnya bagus pisan ternyata datangnya gak cuma dari Bandung, tapi dari luar kota juga. Terus event selanjutnya diajakin deh sama KOLEKTIP NGAWUR, kebetulan satu panggung sama THE PANTURAS,ya…. sekalian aja remix lagu mereka. Dari 2 event itu, masukin youtube, dan the power of medsos ternyata responnya “gila”, sampe sekarang akhirnya bisa main di club-club “gaul” Bandung, padahal kita teh sempet mau perform disana tapi ditolak mentah-mentah karena takut image club nya jelek padahal mah kita bukan dangdut yang sembarang dangdut, hahaha. Dan kita juga pengen bawa pesan biar anak muda sekarang gak malu buat dengerin dangdut dengan alasan bahwasanya dangdut is the music of my country.

T: Betul! Lama-lama kita juga jadi gamau pake lagu-lagu remix-an hasil orang lain, kita mah bawain dan remix lagu yang kita suka aja. Itu sih yang coba FEEL KOPLO terapin.

H: Nyinggung masalah remix, nih, ya. Pengerjaan atau proses bikin remix dari sebuah lagu itu lama gak? terus, seberapa besar susahnya?

T: Jadi kalo pengerjaan remix itu tergantung mood sebenernya, malah lagu everytime punya BOY PABLO bikinnya dua jam sebelum manggung hahaha, tapi ada juga lagu yang bikinnya berminggu-minggu karena rasa malas melanda. Kalo bicara susah atau gak nya itu, sih, variatif  tergantung lagunya misalkan nyari part-part mana aja, nih, yang enak dimasukin feel koplonya.

H: Lagu-lagu yang udah kalian remix ada apa aja? Terus respon dari yang punya lagu gimana?

I: Hasil lagu yang udah kita remix ada dari: John mayer, Feast, Closehead, dan band punk Tcukimay. Respon dari mereka positif semua sih. kalo dari talent luar negri ada keyboardis BOY PABLO komen di postingan feel koplo bilang “you guys awesome” & ada dari FUR repost instastories pribadi dengan tulisan “someone explain to me, pelase!” lalu, sama kita di DM dan mereka dan bales “all good” kalo dari lokal ada TCUKIMAY dan CLOSEHEAD

H: Jadi, kira-kira lagu yang udah dibikin sama FEEL KOPLO berapa lagu?

T: Setlist kita udah bikin lebih dari 50 lagu, tapi kita juga pilih-pilih setlist lagu sih untuk diputer karena ga semua penonton atau yang ngundang kita suka dengan semua lagu yang kita remix. Kaya waktu ada pensi SMA kita bawain lagu EMO koplo mereka diem-diem aja hahaha.

H: Urusan manggung, kalian tuh sekarang udah manggung dimana aja?

I: Wah alhamdulilah sih  sekarang kita banyak panggilan manggung, udah ke Malang, Bekasi, & Jakarta. Udah rame lah.

H: Kalau pengalaman manggung sampai sekarang yang paling keinget dimana ya?

I: Di Ding dong Bar, Jakarta. Di Acara itu juga ada anak-anak Ruru radio dan kagetnya sampai over capacity, karena promonya yang rame juga sih dibantu sama akun-akun shitposting. Disitu kita ada kejadian lucu, Feel Koplo disangka dari Jakarta hahaha.

H: Manggung udah sering, berarti sekarang udah ada manager dan lain-lain dong?

T: Kita udah ada manager dan roadman nyambil videographer. ya  meski penampilan dan konten kita humor tapi kalo profesionalitas mah harus.

H: Ada permintaan aneh-aneh gak kalo ngundang Feel koplo?

I: Gak aneh-aneh sih kita mah dan semoga aja gak ada, karena kita juga pernah jadi LO pas SMA dan ngerasain  gimana ribetnya. Paling kalo permintaan khusus cuma minuman kopi kaleng  yang ada di minimart.

H: Setelah manggung sana-sini, pasti dong ada bosennya. ada yang mau dirilis lagi kah sekarang atau ada info-info lain dari Feel Koplo?

T: Banyak banget yang mau dibikin, kayanya bulan puasa sambil khusu ibadah sambil nabung bikin karya. Baru deh abis lebaran dikeluarin, Selain itu kita juga pengen bikin original remake lagu dengan izin ke yang punya lagunya.

H: Kalo Junkie mau dengerin karya remix kalian dimana?

I: Ada di Youtube kita dan kalo yang lebih lengkap mah dateng aja ke event yang ada kita nya, nanti gratis foto sama aku, haha

*****

Nah buat Junkie yang penasaran dengan mereka bisa langsung ke Instagramnya @feelkoplo atau mau nikmatin karya mereka bisa melalui link youtube: https://www.youtube.com/channel/UCQ0LleJBqq9okslRZbAAX2A #SalamKoplofy #AwasDangdut

The Sounds Project Vol. 4 “Festival dari Generasi Muda, dan untuk Generasi Muda”

The Sounds Project Vol. 4 telah sukses terlaksana terlihat dari sold out- nya tiket yang terjual. Dalam kurun waktu dua hari, The Sounds Project berhasil membawa sekitar 12.000 orang penikmat dan penggila musik untuk berpesta pada hari Jumat, 22 Maret dan Sabtu, 23 Maret 2019. Jika diperhatikan, animo penonton yang membludak ini dipenuhi oleh muda-mudi kisaran umur 17-25 tahun dengan pakaian yang bisa dibilang tidak terlalu memperhatikan style tapi terlihat nyaman. Bukan hanya anak muda, bapak dan ibu juga turut hadir meramaikan tapi tetap terasa muda, mungkin energi muda.

Pada hari pertama perhelatan The Sounds Project Vol. 4 dibuka oleh penampilan musisi folk yang sudah cukup senior, Adhitia Sofyan di atas stage The Sounds Project X Authenticity di P6. Selain Adhitia Sofyan, beberapa musisi lintas genre juga ikut meramaikan panggung P6 seperti Kurosuke, Bam Mastro, Mocca, Reality Club, dan penampilan grup soulful jazz asal taiwan Sunset Rollercoaster, lalu ditutup dengan set manis oleh duo DJ pelestari music dansa Indonesia Diskoria Selekta. Mereka semua berhasil menggetarkan panggung P6, Area Parkir yang disulap menjadi area konser menambah panasnya suasana, jarak antara penonton dan musisi yang tidak terpisah barikade membuat atmosfer keintiman begitu terasa.

Stage utama The Sounds Project Stage yang berada di P7 sudah padat sejak sore hari karena ada quartet idola remaja ibukota HIVI! yang didaulat sebagai pembuka, dilanjut oleh solois muda baru nan-jenius Pamungkas, lalu ada unit pop White Shoes and The Couples Company, disambung oleh penampil-penampil yang namanya sangat melekat di lifestyle festival ibukota yaitu Kunto Aji dan Maliq & D’essentials. Setalah maliq, penonton terbukti sangat bernostalgia dalam set Project Pop, yang setelahnya ditutup dengan sangat manis oleh penampilan Fourtwnty. Menyaksikan band yang tampil di stage utama The Sounds Project adalah mimpi indah yang menjadi nyata untuk sebagian besar penikmat musik yang hadir.

Berlanjut ke hari kedua pagelaran The Sounds Project Vol. 4 yang tidak kalah padatnya dengan hari pertama, wanita cantik dengan suara emasnya, Danilla, sukses mengundang para audience yang didominasi kaum adam untuk memenuhi area stage P6. Kemudian dilanjutkan oleh unit rock asal tangerang dan yogyakarta The Cat Police & Grrrl Gang. .Feast sebagai nama yang sedang panas-panas nya dikalangan anak muda saat ini berhasil “membakar” stage The Sounds Project saat itu, mereka yang dengan spesialnya mengajak Fauzan Lubis (Vokalis Sisitipsi) untuk tampil bersama. Seakan sedikit diistirahatkan, tempo dilambatkan oleh “dakwah” dari musisi folk Jakarta Jason Ranti. The Upstairs tak mau kalah dengan kejutannya yang membawa David Bayu (Vokalis Naif) naik ke atas panggung untuk menyanyikan tembang sidestream legendaris “Matraman”, lalu ada Naif dengan repertoar hitsnya yang tak lekang oleh waktu, dan ditutup dengan band dirty jazz asal Jakarta, Sisitipsi. dengan tembang rakyat andalan mereka, Alkohol.

Beralih ke panggung P7, The Sounds Project dibuka dengan musik magis yang sukses menyihir para audience dari Stars & Rabbit. Kemudian disambung oleh unit hard rock asal bandung The SIGIT, lalu Barasuara memberikan penampilan special berkolaborasi dengan seniman visual ternama Indonesia, Isha Hening, audience dimanjakan oleh pengalaman audio dan visual yang luar biasa di set Barasuara. The Adams menggeber crowd dengan tembang-tembang andalan mereka dari album teranyar Agterplaas. Belum selesai sampai disitu saja Summer Salt sebagai salah satu penampil internasional yang cukup spesial, berhasil memberikan usa-beach-summer-vibes untuk para audience mereka di Indonesia. Nostalgia dibawakan pada set Jamrud, ballroom dan stage bergetar, pecah haru dan tangis juga terjadi saat mereka membawakan tembang legendaris “Pelangi Di Matamu”. Setelah itu joget-massal yang dilakukan audience saat set penutup dari NDX AKA seakan-akan membuktikan bahwa dangdut adalah musik yang bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. 

Melalui Program Music Talks audience bisa menambah ilmu mengenai industri dan dunia permusikan, Music Talks selama 2 hari dimoderatori dengan cerdas oleh Aldila Karina dari Demajors & Synchronize Festival, beberapa pembicara yang silih-berganti memberikan suplai edukasi kepada audience adalah nama-nama besar yang sudah tidak asing lagi di telinga para pelaku industri musik seperti Davian Akbar (Fotografer Barasuara), Melina Anggraini(Fotografer .Feast), Gerhana Banyubiru (The Sounds Project), Novaldi Alghani (Magical Feeeling), Argia Adhindhanendra (Noisewhore), Kenneth Ibrahim (9th Music Gallery), Xandega Tahajuansya (Studiorama), Grrrl Gang, The Cat Police , Baskara Putra (.Feast), dan Fauzan Lubis (Sisitipsi). Setelah sesi Music Talks, tempat tersebut disulap menjadi tempat Movie Screening. Para audience yang hadir dapat menikmati film-film pop-culture sekaligus rehat sejenak jika lelah karena memburu penampilan dari musisi-musisi favorit.

Tidak jauh dari area Music Talks dan Movie Screening, kita bisa melihat banyak orang yang bergoyang dan memadati Joget Stage. Stage tambahan yang memang didesain untuk mereka yang gila-dansa ini menampilkan para pemandu lagu-pemantik pesta dari beragam genre dan sub-kultur di Jakarta, mereka adalah Dizkorea dan Feel Koplo pada hari Jumat serta Soyokaze, Muda Mudi, dan Mr. Nostalgila pada hari Sabtu. Berkumpulnya aliran musik dalam satu acara ini menghadirkan kenangan yang sulit dilupakan bagi penonton yang hadir.

Sejak hari pertama hingga hari kedua, para pelesir musik disuguhkan dengan pemandangan gedung pencakar langit yang menghiasi di sekitaran Kuningan City. Sehingga, rasanya sebagai penonton, untuk mengejar artis favorit dari P6 ke P7 bukan sebuah masalah. Bukan hanya itu, antusiasme penonton yang hadir juga menambah ‘greget’ setiap bintang tamu yang bermain di atas panggung The Sounds Project terbukti sukses memberikan hiburan kepada ribuan pengunjung yang didominasi oleh para generasi millenials pada dua hari penyelenggaraannya, di tengah maraknya beragam festival sekarang, The Sounds Project bisa menjadi salah satu benchmark dan referensi untuk para generasi muda agar lebih berani berkarya, dan bisa menjadi trigger untuk munculnya festival-festival baru. Mengutip perkataan dari Project Director The Sounds Project – Gerhana Banyubiru “Kita ingin setelah ini lebih banyak lagi festival yg dibikin sama anak muda selain thesoundsproject, gak harus dari kalangan professional, kita cuma ingin lebih banyak lagi anak muda yang berani bikin festival dan berani create something, gak cuma sekedar jadi penonton aja.”

CONNAN MOCKASIN, GIGS INTIM NAN MERIAH

Oleh Hutomo Wicaksono

2 april 2019 hari Selasa menjadi hari yang berbeda dengan hari lainnya, hari dimana saya biasanya siaran program After Sunset setiap pukul 19.00 – 20.30, sekarang malah asik menikmati konser yang dibuat oleh rekan-rekan pppost95 entertainment yang menyajikan hiburan musik oleh Pijar asal Jakarta, Golden Mammoth, band negara tetangga (Malaysia), lalu yang terakhir Connan Mockasin (Selandia Baru). Oh iya, saya hampir lupa bahwa acara ini diselenggarakan di Rossi Musik yang berada di Jl. RS Fatmawati No.30. Kemacetan lazim terjadi dikota ini sehingga saya pun harus menunggu lama dalam perjalanan yang akhirnya harus melewatkan penampilan Pijar sebagai penampil pertama dan dilanjutkan oleh Golden Mamoth yang bisa saya nikmati pada tiga lagu terakhir. Dengan suasana yang hangat, acarapun semakin meriah karena band yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pengunjung yaitu Connan Mockasin bersiap-siap untuk melanjutkan keberlangsungan acara. Acara ini, menurut saya bukan hanya sekadar gigs musik biasa yang menghadirkan pertunjukan unik dan berbeda, rugi lah mereka yang tidak menonton dan hanya dapat oleh-oleh berupa cerita belaka dari kawan-kawannya.
Kenapa bisa dibilang berbeda? Hal itu karena Connan sangat baik dalam mengatur flow penonton. Musisi dengan nama asli Connan Tant Hosford itu bermain gitar bersama dengan penonton hingga turun dari panggung dan meminta penonton duduk, membangun suasana keintiman dengan para penikmat yang hadir di Rossi Musik yang lebih seru lagi, Connan menyuruh penonton agar membuat dua barisan yang tengahnya dikosongkan laiknya mosh pit dalam konser metal. Dimaksudkan agar penonton melakukan slow dance dengan pasangannya didalam barisan yang kosong tersebut. Connan bermain sangat rapi walaupun sedikit lali karena seharusnya lagu yang ia bawakan pada lagu ke tujuh adalah lagu yang seharusnya dibawakan sebagai lagu penutup, namun hal itu bukan masalah mengingat musisi asal Te Awanga, Selandia Baru itu berhasil membius penonton dengan aksi panggungnya.

Sedikit cerita ketika saya menunggu Connan mulai, saya melihat-lihat booth merchandise dari Golden Mamoth. Ada pula merchandise konser Connan Mockasins, dan yang terakhir saya melihat penjaja kesegaran berwarna ungu yang saya cari-cari sebagai teman merokok. Sayang saya tidak dapat kesegaran tersebut karena keburu habis namun untungnya ada kawan yang bawa dari Bandung, hehehe. Pada acara ini saya dapat melihat perbedaan-perbedaan orang menikmati konser. Ada orang yang menikmati konser dengan mengejar dan merapatkan barisan paling depan agar dapat bertatap langsung dengan sang idola, lalu ada juga yang menikmati di barisan belakang penonton mungkin karena tidak ingin sesak atau agar mudah keluar meninggalkan venue.

Diambil Oleh Hutomo Wicaksono

Tahun ini penggiat gigs memang sedang dimanja-dimanjanya. Menyesal karena telah melewatkan beberapa performa menarik para musisi? Semoga di kegiatan selanjutnya tak lagi terlewat.

LOCUS POCUS; PAMERAN VISUAL ART YANG TIDAK MELUPAKAN SISI EDUKASI

Oleh Herry Ginanjar

Akhir bulan maret di 107 Garage room, Bandung tampaknya menjadi “agak” bernuansa cyberpunk, pasalnya pada tanggal (26/3) sampai tanggal (5/4) sekelompok muda-mudi Bandung seperti KANAL CREATOR dan CONVERT TEXTURED membuat kegiatan positif dengan membuat acara LOCUS POCUS, Locus pocus sendiri berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti “mantra di dalam sebuah ruangan”

KANAL CREATOR sebuah platform yang fokus terhadap visual graphics, art installation dan juga educative workshop, di event ini Kanal creator melakukan pendekatan konseptual melalui creator-creator yang terlibat di dalam exhibition yang bertujuan untuk menciptakan suatu peristiwa yang tak terduga dan mengesankan dengan cara mengubah hal-hal terlihat normal menjadi luar biasa. Bekerja sama dengan CONVERT TEXTURED, yaitu sebuah studio design & motion graphic asal Bandung, mereka membuat sesuatu yang mendorong imajinasi pengunjung untuk menciptakan suasana berbau futuristik. namun, merasa tidak ingin lupa dengan balutan Indonesia mereka juga mengajak ORCYWORLD sebagai visual dan performance artist untuk pengaplikasian pada “Jala” sebuah benda yang kental dengan tradisional.

Area 107 GARAGE ROOM pun disulap menjadi tempat bernuansa masa depan. Dibagi menjadi 3 lantai exhibition, Lantai pertama di isi dengan Instalasi “Jala” visual dan infinity mirror sukses membuat pengunjung terkesan dan tentunya menjadi spot foto favorit, sedangkan lantai dua di isi oleh laser dipadukan dengan led strip coding sekaligus dijadikan stage utama untuk pertunjukan musik yang di meriah kan oleh CIRCUIT BISCUIT, ETZA, bahkan band psychedelic asal negri JIRAN GOLDEN MAMMOTH. kemudian lantai 3 di isi oleh black hole neon yang dipadukan dengan instalasi visual logo Convert. Event locus pocus sendiri bukan hanya sekedar exhibition & performance saja tetapi ada sisi edukasi yang setiap hari nya dibagikan kepada pengujung, bahkan pemilihan speakers pun tidak sembarangan, Kanal creator dan Convert mengajak beberapa kolaborasi yang berkaitan dengan visual art dan semacamnya seperti: ADXITA, VIRTUALAB, MOKO DICSOVER, RASAMALA FILM, dan MUSIKATALOG.

“Dengan adanya event ini semoga pengujung bisa memanfaatkan ilmu yang telah di dapatkan nya dan bisa menjadi trigerred untuk viasual artist lainnya agar tidak malu untuk memamerkan karya-karya nya” tutur Aid selaku perwakilan dari Convert

Info Instagram; @kanalcreator & @convert.id

(PRESS RELEASE) THE SOUNDS PROJECT VOL. 4 “Music Over Matter”

Menghadirkan 27 musisi tanah air dan 2 musisi mancanegara,

Sunset Rollercoaster (Taiwan) dan Summer Salt (USA).

Bertempat di Kuningan City, Jakarta Selatan, 22-23 Maret 2019.

Festival musik alternatif yang diselenggarakan setiap tahun secara rutin oleh para generasi muda kini kembali hadir! Di awal tahun 2019, The Sounds Project memasuki tahun keempatnya dengan membawa berbagai kejutan baru. The Sounds Project Vol. 4 kali ini mengusung tagline “Music Over Matter” yang memiliki makna bahwa musik melebihi segalanya. Musik kini telah masuk ke segala aspek kehidupan dan dapat mewakili perasaan seseorang hingga dapat mempengaruhi jalan hidupnya. Kehadiran suatu festival musik dapat memberikan berbagai inspirasi positif ditengah konten negatif yang marak terjadi di generasi muda sekarang. Gagasan inilah yang kemudian menjadi pondasi utama untuk menghadirkan musik-musik berkualitas yang dikemas menjadi kesatuan festival alternatif penuh konten dan kaya akan atmosfer positif. Tahun ini, The Sounds Project melakukan ekspansi menjadi 2 hari yaitu pada Jumat dan Sabtu, 22 dan 23 Maret 2019, dengan berbagai jajaran musisi berkualitas dari dalam dan luar negeri.

Melalui akun resmi media sosial Instagram, The Sounds Project telah mengumumkan 29 jajaran pengisi acara ternama yang terbagi di dua hari penyelenggaraan. Pada hari pertama, Jumat, 22 Maret 2019, Adhitia Sofyan, Bam Mastro, Diskoria, Fourtwnty, HIVI!, Kunto Aji, Kurosuke, Maliq & D’Essentials, Mocca, Pamungkas, Project Pop, Reality Club, Sunset Rollercoaster, serta White Shoes & The Couples Company siap untuk menggempur panggung The Sounds Project Vol.4.


Menyempurnakan pergelaran hari pertama, di hari kedua Sabtu, 23 Maret 2019, sejumlah jajaran pengisi acara berkualitas kembali akan disuguhkan kepada para pencinta musik yang hadir mulai dari Barasuara yang melakukan kolaborasi visual spesial dengan Isha Hening, Naif, Danilla, .Feast, G r r r l G a n g , Jamrud, Jason Ranti, NDX AKA, Sisitipsi, Stars and Rabbit, Summer Salt, The Cat Police, The Adams, The S.I.G.I.T, hingga The Upstairs.

Tak hanya menyajikan penampilan musik, The Sounds Project Vol. 4 juga akan memberikan berbagai aktivitas serta edukasi di area festival. Pengunjung dapat menyimak berbagai ilmu dalam program Music Talks bersama pelaku aktif di industri music sidestream ataupun mainstream sekarang. Program ini kemudian akan terbagi ke dalam dua sesi di hari pertama dan dua sesi di hari kedua.

The Sounds Project vol. 4 juga akan menghibur dan memanjakan pengunjung yang hadir dengan berbagai instalasi seni dari mulai mural,UV Room experience sampai visual mapping yang dapat digunakan untuk ber-swafoto, Karaoke Box untuk melepas lelah sejenak sambil menunggu penampil kesayangan, serta berbagai aktivitas lainnya seperti Music Market dan Movie Area yang dapat menambah pengalaman seru berkunjung ke festival ini.

Informasi terkait pemesanan tiket dapat dilakukan dengan menghubungi contact person yang ada di instagram @thesoundsproject. Pembelian melalui website http://www.thesoundsproject.com/ juga sangat disarankan. Tiket yang saat ini masih tersedia adalah kategori Regular dengan harga Rp 400.000,- untuk tiket 2 Days Pass dan Rp 230.000,- untuk tiket Daily Pass. Tiket dengan kategori Daily Early Entry juga tersedia dengan harga Rp 150.000,- melalui kedua cara pembelian di atas.

Penasaran dengan kejutan lain yang akan disajikan di The Sounds Project vol. 4? Pantau terus akun media sosial The Sounds Project Vol. 4 untuk mengikuti perkembangannya, dan sampai jumpa di tanggal 22-23 Maret ini Junkie!

Lalala Festival: Biar Basah, Tetap Nyampah, Semoga Berkah!

“Lalapes a, lalapes!” begitu kira-kira jargon juru parkir agar kendaraan pengunjung tersusun rapi. Festival Musik dengan konsep acara di tengah hutan hujan telah berlalu. Banyak hal masih membekas di hati panitia, pengunjung, maupun pejuang-pejuang bermodalkan gawai dan jari-jari lincah. Lalala Festival menyisakan banyak kesan, baik kesan positif maupun kesan negatif, meskipun kelihatannya lebih banyak kesan negatif, sih.
Bicara soal kesan positif, panitia sukses menggiring muda-mudi dan sedikit orang tua agar hadir ke festival di tengah hutan pinus, tercatat belasan ribu pengunjung datang kesana. Acara pun berjalan dengan lancar & professional (secara teknis), terlepas dari banyaknya keluhan pengunjung. Patut diapresiasi.

jepretan @snawazaki & @gladinasaska
jepretan @snawazaki & @gladinasaska

Sayangnya, kesan negatif lebih banyak dari apresiasi positif. keluhan pertama yang patut jadi sorotan: kualitas sound system amat kurang oke! Untuk sekelas Lalala Festival yang didatangi belasan ribu pengunjung, masa sih kualitas sound-nya segitu doang?

Terus, booth air minum hanya tersedia 2 untuk 15ribu lebih pengunjung. Abis naik-naik ke puncak venue tenggorokan pasti aus, bro. Belum lagi toilet yang disediakan hanya sedikit. Yang mau buang aer gelisah sampai sekitar setengah jam. Untungnya gak ada pengunjung yang ngaburusut di venue. Kalo sampe kejadian, panitia mau tanggung jawab gitu?
Patut disayangkan juga, dengan kondisi di lapangan yang njelimet, crew & panitia hanya bisa planga-plongo. Entah kurang penyuluhan sebelum acara atau belum makan dari pagi. Hanya Tuhan dan panitia yang tahu. Belum lagi hujan, dingin, sendirian, kurang kasih sayang pula. Kasihan.
Belum lagi banyak sampah berserakan di sekitar Orchid Forest. Segala macam sampah ada, Jas Hujan, Puntung Rokok, Botol Plastik, Kaleng-kaleng kratingdong-deng, sampai kenangan nonton bersama mantan kekasih di Lalala tahun lalu berceceran dimana-mana.
Masih belum cukup juga kekecewaan penonton, seberes acara, setelah Honne, Sheila On 7, Joe Hertz, The Internet dll manggung, waktunya istirahat ke kasur masing-masing. Nahas bagi pengunjung, si dia sudah bersama yang lain mereka harus tertahan diperjalanan pulang karena di exit gate, macet parah karena jalan sempit sehingga kendaraan shuttle (menggunakan bus besar) tak bisa jalan kemana-mana. Belum lagi aji mumpung ojek dadakan Warga Kampung Sana, juga mobil-mobil pejabat sok penting menuh-menuhin jalan. Udah tahu sempit.
Antrean shuttle-nya pun gak puguh. Masih banyak pengunjung yang tidak kebagian naik shuttle. Sekitar jam 3.30, terjadi sedikit drama di pertigaan pintu masuk venue, sebagian pengunjung protes karena belum juga kebagian naik bus shuttle. Konon katanya, saat ini para pengunjung kampring tersebut masih menunggu dijemput bus yang tak kunjung datang.

Lalala Festival ini mendapat banyak cibiran di jejaring sosial. Akan oke-oke saja jika netizen yang budiman mengomentari shuttle yang gak puguh, sampah-sampah yang berserakan, toilet yang seadanya, atau juga panitia yang planga-plongo kayak ayam celup, karena memang perkara tersebut yang perlu dikritisi. Di media sosial ada juga netizen yang mengeluhkan venue becek gak karuan. Saran dari kami kalau anda ogah becek ya nonton aja dikamar kost. Ribet amat.
Ada juga orang-orang yang mengeluh capek harus jalan kira-kira 3kilometer-an untuk sampai ke venue. Disini kelihatan orang-orang sini manja & banyak mau. Gini nih kalo orang kaya Indo diajak dateng ke hutan. Lain kali gak usah nonton festival kalau ogah capek, mas/mbak!
Ada pula Netizen yang entah ikut entah enggak mengomentari ekspektasi venue yang bertentangan dengan realita di lapangan. Mereka mencibir lantaran bentuk tanah pijakan pengunjung yang bentuknya gak karuan. Logikanya memang kalo tanah berumput diinjek-injek ribuan orang ya ledok, gan/sis.

Setidaknya, acara Lalala Festival membuat kita mempelajari cukup banyak hal: uang tak bisa membeli ketahanan fisik (kecuali kalau nge-doping) kalau nonton digunung mbok ya gak usah ngeluh, pasti capek dengan segala kemungkinannya. Selanjutnya dikemudian hari panitia bisa memberi training biar crew yg ada di venue gak planga-plongo lagi. Juga di agenda selanjutnya, sebaiknya disediakan tempat sampah yang lebih banyak, agar aman dari kejamnya komentar SJW-SJW liar.

Terakhir, kami tahu pengunjung-pengunjung Lalala Festival yang budiman kecapekan, pegal, juga rungsing. Setidaknya sebagian dari pengunjung yang kebagian dapat menikmati burger & steak dari Suis Butcher dan Brother Jonn&Sons. Berbahagialah yang makan enak disana!

Kontributor: Cies Her

Editor: Rian Sting

The Panturas – “Semi Album” pertama dari Kuartet asal kota “Semi Pelajar”

Setelah merilis EP perdana dari kelompok Pop muram Voyagers of Icarie di awal tahun 2018 dalam format kaset, kini La Munai Records kembali melepas rekaman baru dalam format cakram padat yang berisikan 7 lagu dari sekumpulan pemuda tanggung yang siap turun gunung untuk mengarungi deras nya ombak. 

Semi Album bertajuk Mabuk Laut adalah kumpulan lagu rekaman “Live” di Palm House Studio, Jakarta Selatan. Sebelumnya 2 single (Fisherman’s Slut & Gurita Kota) yang terlebih dahulu berlayar sudah bisa dinikmati kanal Youtube. lagu dengan tempo cepat dibalut dengan lick gitar ala penunggang ombak kelas teri yang menjadi ciri khas dari (Abyan Zaki Nabilio – Vocal & Guitar, Rizal Taufikurrohman – Guitar, Surya Fikri Asshidiq – Drum dan Bagus Patria – Bass) di dalam album ini. 

Dalam mengarungi samudera yang luas, The Panturas turut dibantu oleh Oscar Lolang seorang Nahkoda “Flamboyant” yang untuk sejenak melupakan gitar kopong nya dan ikut berdendang dengan lantang dan gagahnya dalam lagu Arabian Playboy. 


Mabuk Laut resmi diluncurkan pada Senin 19 Februari 2018, Yang tersedia dalam 2 paket berbeda Standard CD dan Package Bundling “Limited” (CD + T-shirt + Poster) Pengarapan artistik untuk cover album di kerjakan oleh Toma & Kako, yang terinspirasi dari budaya jalur lintas Pantai Utara, sementara untuk design merchandise di bantu oleh Shunsuke Izumimoto. 

Dan akhirnya layar kapal telah terbentang, kini semua awak beserta kapten “Zissou” pun telah siap untuk membawa The Panturas untuk Mabuk (di) Laut. 

Berikut kami lampirkan link Youtube untuk 2 single dari The Panturas 
Gurita Kota https://www.youtube.com/watch?v=D-PobntePRA 
Fisherman’s Slut https://www.youtube.com/watch?v=qdX3akVldY4 

Penulis : www.lamunai.com