(PRESS RELEASE) THE SOUNDS PROJECT VOL. 4 “Music Over Matter”

Menghadirkan 27 musisi tanah air dan 2 musisi mancanegara,

Sunset Rollercoaster (Taiwan) dan Summer Salt (USA).

Bertempat di Kuningan City, Jakarta Selatan, 22-23 Maret 2019.

Festival musik alternatif yang diselenggarakan setiap tahun secara rutin oleh para generasi muda kini kembali hadir! Di awal tahun 2019, The Sounds Project memasuki tahun keempatnya dengan membawa berbagai kejutan baru. The Sounds Project Vol. 4 kali ini mengusung tagline “Music Over Matter” yang memiliki makna bahwa musik melebihi segalanya. Musik kini telah masuk ke segala aspek kehidupan dan dapat mewakili perasaan seseorang hingga dapat mempengaruhi jalan hidupnya. Kehadiran suatu festival musik dapat memberikan berbagai inspirasi positif ditengah konten negatif yang marak terjadi di generasi muda sekarang. Gagasan inilah yang kemudian menjadi pondasi utama untuk menghadirkan musik-musik berkualitas yang dikemas menjadi kesatuan festival alternatif penuh konten dan kaya akan atmosfer positif. Tahun ini, The Sounds Project melakukan ekspansi menjadi 2 hari yaitu pada Jumat dan Sabtu, 22 dan 23 Maret 2019, dengan berbagai jajaran musisi berkualitas dari dalam dan luar negeri.

Melalui akun resmi media sosial Instagram, The Sounds Project telah mengumumkan 29 jajaran pengisi acara ternama yang terbagi di dua hari penyelenggaraan. Pada hari pertama, Jumat, 22 Maret 2019, Adhitia Sofyan, Bam Mastro, Diskoria, Fourtwnty, HIVI!, Kunto Aji, Kurosuke, Maliq & D’Essentials, Mocca, Pamungkas, Project Pop, Reality Club, Sunset Rollercoaster, serta White Shoes & The Couples Company siap untuk menggempur panggung The Sounds Project Vol.4.


Menyempurnakan pergelaran hari pertama, di hari kedua Sabtu, 23 Maret 2019, sejumlah jajaran pengisi acara berkualitas kembali akan disuguhkan kepada para pencinta musik yang hadir mulai dari Barasuara yang melakukan kolaborasi visual spesial dengan Isha Hening, Naif, Danilla, .Feast, G r r r l G a n g , Jamrud, Jason Ranti, NDX AKA, Sisitipsi, Stars and Rabbit, Summer Salt, The Cat Police, The Adams, The S.I.G.I.T, hingga The Upstairs.

Tak hanya menyajikan penampilan musik, The Sounds Project Vol. 4 juga akan memberikan berbagai aktivitas serta edukasi di area festival. Pengunjung dapat menyimak berbagai ilmu dalam program Music Talks bersama pelaku aktif di industri music sidestream ataupun mainstream sekarang. Program ini kemudian akan terbagi ke dalam dua sesi di hari pertama dan dua sesi di hari kedua.

The Sounds Project vol. 4 juga akan menghibur dan memanjakan pengunjung yang hadir dengan berbagai instalasi seni dari mulai mural,UV Room experience sampai visual mapping yang dapat digunakan untuk ber-swafoto, Karaoke Box untuk melepas lelah sejenak sambil menunggu penampil kesayangan, serta berbagai aktivitas lainnya seperti Music Market dan Movie Area yang dapat menambah pengalaman seru berkunjung ke festival ini.

Informasi terkait pemesanan tiket dapat dilakukan dengan menghubungi contact person yang ada di instagram @thesoundsproject. Pembelian melalui website http://www.thesoundsproject.com/ juga sangat disarankan. Tiket yang saat ini masih tersedia adalah kategori Regular dengan harga Rp 400.000,- untuk tiket 2 Days Pass dan Rp 230.000,- untuk tiket Daily Pass. Tiket dengan kategori Daily Early Entry juga tersedia dengan harga Rp 150.000,- melalui kedua cara pembelian di atas.

Penasaran dengan kejutan lain yang akan disajikan di The Sounds Project vol. 4? Pantau terus akun media sosial The Sounds Project Vol. 4 untuk mengikuti perkembangannya, dan sampai jumpa di tanggal 22-23 Maret ini Junkie!

Lalala Festival: Biar Basah, Tetap Nyampah, Semoga Berkah!

“Lalapes a, lalapes!” begitu kira-kira jargon juru parkir agar kendaraan pengunjung tersusun rapi. Festival Musik dengan konsep acara di tengah hutan hujan telah berlalu. Banyak hal masih membekas di hati panitia, pengunjung, maupun pejuang-pejuang bermodalkan gawai dan jari-jari lincah. Lalala Festival menyisakan banyak kesan, baik kesan positif maupun kesan negatif, meskipun kelihatannya lebih banyak kesan negatif, sih.
Bicara soal kesan positif, panitia sukses menggiring muda-mudi dan sedikit orang tua agar hadir ke festival di tengah hutan pinus, tercatat belasan ribu pengunjung datang kesana. Acara pun berjalan dengan lancar & professional (secara teknis), terlepas dari banyaknya keluhan pengunjung. Patut diapresiasi.

jepretan @snawazaki & @gladinasaska
jepretan @snawazaki & @gladinasaska

Sayangnya, kesan negatif lebih banyak dari apresiasi positif. keluhan pertama yang patut jadi sorotan: kualitas sound system amat kurang oke! Untuk sekelas Lalala Festival yang didatangi belasan ribu pengunjung, masa sih kualitas sound-nya segitu doang?

Terus, booth air minum hanya tersedia 2 untuk 15ribu lebih pengunjung. Abis naik-naik ke puncak venue tenggorokan pasti aus, bro. Belum lagi toilet yang disediakan hanya sedikit. Yang mau buang aer gelisah sampai sekitar setengah jam. Untungnya gak ada pengunjung yang ngaburusut di venue. Kalo sampe kejadian, panitia mau tanggung jawab gitu?
Patut disayangkan juga, dengan kondisi di lapangan yang njelimet, crew & panitia hanya bisa planga-plongo. Entah kurang penyuluhan sebelum acara atau belum makan dari pagi. Hanya Tuhan dan panitia yang tahu. Belum lagi hujan, dingin, sendirian, kurang kasih sayang pula. Kasihan.
Belum lagi banyak sampah berserakan di sekitar Orchid Forest. Segala macam sampah ada, Jas Hujan, Puntung Rokok, Botol Plastik, Kaleng-kaleng kratingdong-deng, sampai kenangan nonton bersama mantan kekasih di Lalala tahun lalu berceceran dimana-mana.
Masih belum cukup juga kekecewaan penonton, seberes acara, setelah Honne, Sheila On 7, Joe Hertz, The Internet dll manggung, waktunya istirahat ke kasur masing-masing. Nahas bagi pengunjung, si dia sudah bersama yang lain mereka harus tertahan diperjalanan pulang karena di exit gate, macet parah karena jalan sempit sehingga kendaraan shuttle (menggunakan bus besar) tak bisa jalan kemana-mana. Belum lagi aji mumpung ojek dadakan Warga Kampung Sana, juga mobil-mobil pejabat sok penting menuh-menuhin jalan. Udah tahu sempit.
Antrean shuttle-nya pun gak puguh. Masih banyak pengunjung yang tidak kebagian naik shuttle. Sekitar jam 3.30, terjadi sedikit drama di pertigaan pintu masuk venue, sebagian pengunjung protes karena belum juga kebagian naik bus shuttle. Konon katanya, saat ini para pengunjung kampring tersebut masih menunggu dijemput bus yang tak kunjung datang.

Lalala Festival ini mendapat banyak cibiran di jejaring sosial. Akan oke-oke saja jika netizen yang budiman mengomentari shuttle yang gak puguh, sampah-sampah yang berserakan, toilet yang seadanya, atau juga panitia yang planga-plongo kayak ayam celup, karena memang perkara tersebut yang perlu dikritisi. Di media sosial ada juga netizen yang mengeluhkan venue becek gak karuan. Saran dari kami kalau anda ogah becek ya nonton aja dikamar kost. Ribet amat.
Ada juga orang-orang yang mengeluh capek harus jalan kira-kira 3kilometer-an untuk sampai ke venue. Disini kelihatan orang-orang sini manja & banyak mau. Gini nih kalo orang kaya Indo diajak dateng ke hutan. Lain kali gak usah nonton festival kalau ogah capek, mas/mbak!
Ada pula Netizen yang entah ikut entah enggak mengomentari ekspektasi venue yang bertentangan dengan realita di lapangan. Mereka mencibir lantaran bentuk tanah pijakan pengunjung yang bentuknya gak karuan. Logikanya memang kalo tanah berumput diinjek-injek ribuan orang ya ledok, gan/sis.

Setidaknya, acara Lalala Festival membuat kita mempelajari cukup banyak hal: uang tak bisa membeli ketahanan fisik (kecuali kalau nge-doping) kalau nonton digunung mbok ya gak usah ngeluh, pasti capek dengan segala kemungkinannya. Selanjutnya dikemudian hari panitia bisa memberi training biar crew yg ada di venue gak planga-plongo lagi. Juga di agenda selanjutnya, sebaiknya disediakan tempat sampah yang lebih banyak, agar aman dari kejamnya komentar SJW-SJW liar.

Terakhir, kami tahu pengunjung-pengunjung Lalala Festival yang budiman kecapekan, pegal, juga rungsing. Setidaknya sebagian dari pengunjung yang kebagian dapat menikmati burger & steak dari Suis Butcher dan Brother Jonn&Sons. Berbahagialah yang makan enak disana!

Kontributor: Cies Her

Editor: Rian Sting

The Panturas – “Semi Album” pertama dari Kuartet asal kota “Semi Pelajar”

Setelah merilis EP perdana dari kelompok Pop muram Voyagers of Icarie di awal tahun 2018 dalam format kaset, kini La Munai Records kembali melepas rekaman baru dalam format cakram padat yang berisikan 7 lagu dari sekumpulan pemuda tanggung yang siap turun gunung untuk mengarungi deras nya ombak. 

Semi Album bertajuk Mabuk Laut adalah kumpulan lagu rekaman “Live” di Palm House Studio, Jakarta Selatan. Sebelumnya 2 single (Fisherman’s Slut & Gurita Kota) yang terlebih dahulu berlayar sudah bisa dinikmati kanal Youtube. lagu dengan tempo cepat dibalut dengan lick gitar ala penunggang ombak kelas teri yang menjadi ciri khas dari (Abyan Zaki Nabilio – Vocal & Guitar, Rizal Taufikurrohman – Guitar, Surya Fikri Asshidiq – Drum dan Bagus Patria – Bass) di dalam album ini. 

Dalam mengarungi samudera yang luas, The Panturas turut dibantu oleh Oscar Lolang seorang Nahkoda “Flamboyant” yang untuk sejenak melupakan gitar kopong nya dan ikut berdendang dengan lantang dan gagahnya dalam lagu Arabian Playboy. 


Mabuk Laut resmi diluncurkan pada Senin 19 Februari 2018, Yang tersedia dalam 2 paket berbeda Standard CD dan Package Bundling “Limited” (CD + T-shirt + Poster) Pengarapan artistik untuk cover album di kerjakan oleh Toma & Kako, yang terinspirasi dari budaya jalur lintas Pantai Utara, sementara untuk design merchandise di bantu oleh Shunsuke Izumimoto. 

Dan akhirnya layar kapal telah terbentang, kini semua awak beserta kapten “Zissou” pun telah siap untuk membawa The Panturas untuk Mabuk (di) Laut. 

Berikut kami lampirkan link Youtube untuk 2 single dari The Panturas 
Gurita Kota https://www.youtube.com/watch?v=D-PobntePRA 
Fisherman’s Slut https://www.youtube.com/watch?v=qdX3akVldY4 

Penulis : www.lamunai.com