Ditulis oleh Nadhira Saffana dari Bandung, saat ini bekerja sebagai designer di salah satu studio seni dan desain di Dago. Ini kali pertama kalinya isi artikel column di Junks Radio. Berkenalan Dengan Bandung adalah artikel pertamaku yang aku coba rangkum dari hasil pengamatan dan pengalaman aku hidup di Bandung sebagai perantau.

berkenalan dengan Bandung alun alun kota analog kodak color plus
Nadhira Saffana: Suasana Kota Bandung | 📸: pocket Fujifilm Clear Shot U dan roll film Kodak Colorplus

Bagi orang yang baru mampir ke Bandung, mungkin akan jengah dan melatih banyak kesabaran menghadapi lalu lintasnya. Bisa dengan pengguna jalan yang tiba-tiba belok kiri padahal posisinya di kanan—tapi jarang ditegur/diklakson.

Atau seringkali kagok dengan banyaknya jalan satu arah yang muter sana-sini sampai akhirnya batal ke tempat tujuan—cuma karena gak mau dibuat pusing lagi. Bisa dengan lampu merah yang luar biasa lama, kita bisa ngobrolin kehidupan dari baru lahir sampe pusing mikirin percintaan yang tak terbalas.

Dibalik jahanamnya lalu lintas Kota Bandung, percayalah—bukan cuma kamu doang yang ngerasain. Aku juga banyak berjibaku dengan lalu lintas Kota Bandung sebelum memutuskan untuk tinggal dekat kantor supaya aksesnya lebih mudah, tapi kekurangannya adalah aku gak bisa sering-sering menikmati pegelnya pantat harus menunggu lama di perempatan Buah Batu atau muter-muter karena salah belok di Cihampelas.

berkenalan dengan Bandung macet kodak color plus fujifilm clear shot u
Nadhira Saffana: Suasana Kota Bandung | 📸: pocket Fujifilm Clear Shot U dan roll film Kodak Colorplus

Memutuskan untuk bermukim di kota ini dalam kurun waktu 5 tahun membuatku ada di tingkat kebosanan yang cukup kronis. Aku jadi sering bolak-balik kota lain hanya untuk meyakinkan bahwa, bisakah aku tinggal di Bandung?

Jahanam-nya lalu lintas Kota Bandung menurutku disinyalir dari pengalamanku berbelas tahun hidup dan menetap di Kota Jakarta. Seringkali membandingkan kondisi lalu lintas yang mungkin sudah menghabiskan hampir setengah umurku yang masih belia ini. Walaupun macet di kedua kota kesayanganku ini bikin senewen, bertemunya aku dengan pengguna jalan yang lain juga disebabkan oleh satu alasan: ngopi.

Banyaknya pertemuan di setiap sudut tempat kopi yang menjamur disini, membuktikan bahwa Bandung menyediakan tempat yang ramah untuk berdiskusi. Bandung Lautan Api kini bisa saja berganti menjadi Bandung Lautan Kopi. Memang sebanyak dan se-menjamur itu kedai kopi di setiap sisi Kota Bandung, yang luas wilayahnya tidak lebih besar daripada kota kenamaan sebelah, Jakarta.

berkenalan dengan bandung suasana jaji coffee tempat kopi bandung
Nadhira Saffana: Suasana Jaji Coffee

Budaya ‘paguyuban’ dan ‘Patembayan’ yang kerap diidentikkan dengan Suku Sunda menjadi akar utama banyaknya wadah-wadah perkumpulan dan membentuk komunitas baru di Bandung. Paguyuban sendiri merupakan konsep yang dicetus oleh tokoh sosiologi klasik asal Jerman bernama Ferdinan Tonnies tentang Gemeinschaft dan Gesellschaft. Tonnies mempelajari pola relasi masyarakat dalam bersosialisasi sehingga terbentuk suatu ikatan personal yang alamiah dan intens. Jadi wajar saja, coffeeshop di Bandung yang hadir di setiap inci kotanya ini lahir dari permintaan ‘ngumpul’ yang luar biasa. Selain bikin konten tentunya.

berkenalan dengan bandung mangkok likal bandung kopi nongkrong
Suasana Mangkok Lokal diabadikan menggunakan kamera handphone oleh Nadhira Saffana

Bagaimanapun juga, Bandung membentuk diriku yang berhasil melewati pasang-surut dunia kuliah dan kerja. Bandung selalu menjadi satu buku penuh cerita dengan berpuluh-puluh chapter yang tidak akan bisa selesai. Selayaknya bentuk cinta yang hadir dan berkembang seutuhnya berbekal ketidaksempurnaan.

Semua tulisan mengenai Berkenalan Dengan Bandung dan foto semua dibuat oleh Nadhira Saffana.

Simak artikel-artikel lain dari kami di sini, Junkies!