Kilas Balik 2019 ala Junks Radio

Setelah menjalani 2020 yang sudah masuk dalam hitungan hari. Alangkah lebih baik kita kilas mundur apa saja event yang sudah terlaksana dengan lancar nan seru. Ada event yang berlangsung dengan baik dan berkesan ada pula yang dapat diambil pelajarannya. Kemudian, munculnya berbagai fenomena di bidang musik dari karaoke, koplo, dan rilisan baru dari berbagai pelaku musik yang keren dari segi materi hingga marketing. Gaada salahnya kan untuk kita kilas balik kejadian di atas yang terekam dan mewarnai kancah permusikan Indonesia di 2019. Intinya, terima kasih sudah bersenang-senang, tahun depan ga boleh kendor hebohnya!

Awal mula mari kita coba lihat dan sekalian mengingat bahwa 2019 menjadi tahun invasinya band-band ‘kece’ internasional yang mencoba merambah pendengar dalam negeri. Kita mulai dari Honne yang tahun ini berhasil mengadakan konser di Indonesia sebanyak 2 kali pada gelaran LaLaLa Fest 2019 bulan Februari lalu di Bandung dan pada bulan november dalam rangka tur Love Me/Love Me Not di Jakarta. Tidak sungkan-sungkan band yang dipunggawai oleh Andy Clutterbuck dan James Hatcher melakukan konser selama 3 hari di SCBD, gokil! Konser tersebut menjadi penampilan ke-4 mereka di Indonesia sejak dimulai tahun 2017, sepertinya tahun depan mas-mas ini siap bersaing di music chart Indonesia. Tidak lupa juga tahun 2019 John Mayer menyambangi Indonesia sebagai rangkaian tur Asia pertamanya, alhasil tiket mampu ludes cuma dalam itungan menit. Entah memang perekonomian Indonesia sedang meningkat atau apa tapi konser John Mayer ini sempat menjadi trending di media sosial, tentunya karena ada berbagai pihak-pihak picik a.K.a calo tiket yang memborong tiket untuk dijual dengan harga setinggi langit. CALO GOBL*G. Bukan hanya musisi mainstream yang main-main ke Indonesia, berbagai musisi sidestream yang masih memiliki massa penggemar spesifik juga invasi ke Indonesia. Musisi seperti, Boy Pablo, Phum Viphurit, Sunset Rollercoaster yang sempat menjadi hype di kalangan dede-dede gemesh juga mampu dibawa ke Indonesia. Hingga di penghujung tahun, rangkaian invasi musisi internasional ditutup dengan baik oleh dua acara yang dibungkus secara baik dan menarik. Kedatangan King Gizzard and the Lizzard Wizard serta BADBADNOTGOOD yang akhirnya berhasil meng’amin’kan doa para militannya, kemudian Joyland Festival menghadirkan Frankie Cosmos, Anna of the North, dan Washed Out sangat pantas diberi dua jempol dengan bungkusan acara yang rapih serta didukung venue yang luar biasa nyaman.

Invasi musisi internasional yang merambah pendengar di Indonesia ini tentunya dibarengi oleh kinerja promotor dan event organizer dalam mengemas acara yang menarik untuk didatangi. Kami merekam beberapa gelaran acara yang menarik untuk dibahas, dari yang terbaik hingga yang ‘amburadul’. acara keren jempolan macam Synchronize fest dengan ide yang selalu jenius mendapatkan tanggapan super positif oleh berbagai media hingga para event enthusiast. Salah satu acara yang paling ditunggu setiap tahunnya ini sudah memasuki tahun ke-4. Berhasil membuat kejutan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Setelah dalam gelaran sebelumnya berhasil mendatangkan Rhoma Irama dan membuat acara yang penuh keberagaman genre. Tahun ini, Synchronize Fest memberikan kejutan lainnya dengan menyuguhkan karaoke bersama Wali, Ian Kasela (Radja), dan Babang Tampan (Andika Kangen Band) yang dibungkus oleh Oom Leo Berkaraoke. Secara bungkusan acara, line up, dan activity, Synchronize Festival ke-4 ini dapat disebut menjadi yang terbaik di tahun ini. Kemudian LaLaLa Fest yang masih belum belajar dari gelaran acara tahun sebelumnya, masih menyuguhkan acara dengan skala internasional di musim penghujan. Referensi pengunjung yang dibuat dengan gaya ala-ala ‘Hippies’ bertemu medan acara yang cenderung hiking dan berlumpur membuat pengunjung lebih terlihat seperti telah mengunjungi kegiatan outbound. Permasalahan parkir sembarangan dan jalanan yang macet pun masih menjadi kendala yang belum dapat terselesaikan, alhasil kolom komentar kembali dipenuhi oleh netizen yang Maha Benar dengan jempol tangannya. Dua acara terakhir dapat diambil sebagai referensi dari event organizer yang asal-asalan dan “kacrut amburadul”. Pertama, acara dengan skala lokal ‘Musikologi 2019’ yang berhasil dengan cepatnya memenuhi lini masa media sosial dengan berbagai hujatan dan sumpah serapah. Penyebabnya adalah karena event organizer yang sangat buruk dalam mengelola rundown dan tidak adanya petugas keamanan yang mengantisipasi chaos. Bukan hanya hujatan netizen di media sosial yang membuat acara ini dapat dikenang, namun penonton yang kecewa karena gagal nonton idolanya berhasil menjarah barang-barang vendor semacam speaker, alat band, dan merusak panggung beserta tendanya. Musikologi 2019, berhasil menjadi contoh buruk yang dapat diambil pelajarannya baik bagi para EO untuk mengelola acara dengan lebih layak dan bagi para penonton untuk kedepannya lebih bijak dalam mengambil tindakan. Sebagai penutup 2019, November kemarin Lokatara Festival kembali menggelar acara tahunan dengan skala internasional. Secara line up, acara ini cukup memberi kejutan dengan berbagai muisi internasioal yang menghiasi seperti The Drums, Gus Dapperton, Alex tbh, dll. Antusias penonton hancur dalam beberapa hari sebelum acara digelar dengan pembatalan tampilnya dari hampir semua artis internasional yang mengumumkan melalui instagram stories masing-masing dan bukan dari pihak Lokatara Festival. Hasilnya, ribuan komentar warga net kembali menghiasi akun @lokatarafest. Acara dengan skala internasional ini pun akhirnya, hanya diramaikan oleh musisi lokal dan beberapa musisi internsional yang ‘nekat’ untuk manggung. Lokatara Fest menjadi acara hiburan yang paling menarik bagi warga net di 2019, bukan di atas panggung melainkan kolom komentar. Antusiasme acara di 2020 layak ditunggu menimbang apa yang terjadi di 2019, semoga lebih baik.

Salah satu hal yang patut diapresiasi di tahun 2019 adalah meledaknya 88rising di pasaran dengan line up nya yang go international seperti Rich Brian, Joji, Niki Zefanya, dan Stephanie Poetri mampu membangkitkan gairah kembali nama Indonesia di industri musik internasional. Tak lupa juga dengan kemunculan fenomena musik koplo yang dulu cenderung dianggap norak/kampungan namun kini menjadi tren dilakangan muda-mudi. Re-branding musik koplo mampu mengombinasikan lagu-lagu kekinian dengan musik yang identik dengan gendang berhasil meramaikan acara dari bar ke bar hingga festival ke festival. Fenomena lainnya yang tidak bisa terlepas dari 2019 adalah kemunculan euforia karaoke yang cukup berhasil menggantikan tren musik EDM, House, Hip-Hop dari bar hingga festival. Kemudian yang tidak boleh terlewat, kemunculan musisi pendatang baru dan rilisan anyar yang keren secara materi lagunya maupun marketingnya. Musisi-musisi yang tanggap akan isu sosial yang sedang terjadi mulai dari demo, intoleransi, hingga kesehatan mental dinilai menjadi ‘kojo’ bagi beberapa musisi untuk merilis lagu anyar mereka

2019 juga menjadi tahun yang menarik degan bermunculannya musik ‘Popular’ baru di Indonesia yang berhasil menaikan dinamika diskusi musik di media sosial. Hindia yang gencar memberikan musik ala-ala memotivasi sekaligus kontemplasi hidup justru berbanding terbalik dengan pendengarnya yang sangar dan beringas untuk menghajar siapa saja yang mengkritik idolanya. Secara marketing, Baskara jelas berhasil dengan mengajak audience untuk berpartisipasi dalam pembuatan video klip. Belum lagi Pamungkas yang hadir dengan paket musiknya yang menye-menye berhasil menggaet mas dan mba yang senasib ditinggal pacarnya dan merasa sendirian mengarungi kerasnya hidup, hadeh. Hingga dipenghujung tahun 2019 dikagetkan dengan kemunculan Isyana yang baru. Dirinya seakan-akan abis nongkrong bareng om-om progresif rock terus dengerin tool, rush sampe puyeng. Selamat lexicon, gabisa dimengerti lagi, ternyata Isyana se-ngeri itu hehe. Pada akhirnya ketika berbicara mengenai musik favorit tidak ada yang bisa saling intervensi satu sama lain, semua kan gimana situasi dan kondisi. Sisi positifnya adalah 2019 menjadi tahun yang cukup dinamis bagi perkembangan musik di Indonesia, baik dari segi materi musik hingga cara marketing karya musiknya. Di luar perkelahian saling serang massa penggemar di media sosial membela idolnya masing-masing serta ke’sotoy’an netizen memberikan ulasan suatu musik justru hal tersebut yang memperlihatkan bahwa musik di Indonesia sedang berkembang dan sangat baik-baik saja.

Pasar Malam Kampus Tiga XXIII : Los Marginados

Gelaran Pasar Malam Kampus Tiga kembali hadir! Acara tahunan anak-anak Fakultas Fisip Unpar ini kembali menyajikan hal-hal yang rasanya ‘jarang’ didapatkan di Kota Bandung. Pada tanggal 27 April 2019 mendatang, PMKT merayakan pagelarannya yang sudah 23 tahun, dan tahun ini akan diselenggarakan di Saparua Park. PMKT konsisten memberikan hiburan tiap tahun-nya dengan kemasan pasar malam yang benar-benar “pasar malam”. Kali ini, PMKT menggunakan frasa Los Marginados dalam penamaan-nya yang berarti “anak jalanan” atau “yang terpinggirkan” atau “orang buangan”dalam bahasa spanish. Panitia PMKT XXIII berusaha mengangkat fokusnya pada bidang pendidikan non-akademis dan pengembangan skill kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk merasakan bangku kuliah, sebagai pemaknaan dari frasa “Los Marginados”. Menurut mereka istilah “semua orang punya hak yang sama terhadap akses pendidikan” tidak menjadi relevan dengan apa yang mereka lihat di lapangan.

Berbagai hiburan siap untuk disajikan pada Sabtu nanti. The Panturas, Rasukma, Rendy Pandugo dan Hivi! resmi diumumkan sebagai jajaran pengisi acara untuk PMKT XXIII. Selain itu sesuai dengan tagline yang diusung yaitu “The Peak of Joyful Ride” pengunjung yang hadir akan disuguhkan dengan pengalaman menyenangkan melalui berbagai wahana yang disajikan seperti Kora-Kora, Bianglala, dan Balloon Castle, sehingga ketika kembali ke rumah bukan hanya membawa badan lelah tapi jiwa yang senang, pokoknya “Mens sana in corpore sano”. Selain wahana, ada juga art exhibition dan tentunya yang terpenting kumpulan bazzar makanan yang akan memastikan perut pengunjung tidak akan keroncongan. Terakhir, tentunya yang spesial dan akan selalu ada dalam PMKT tiap tahunnya adalah Rumah Hantu. Salah satu wahana yang selalu menjadi favorit muda-mudi Bandung ketika datang ke PMKT kali ini mengusung tagar #CircusofTheDead dan akan menjadi pembeda PMKT dengan pasar malam lainnya!

Tiket yang dijual hingga saat ini untuk Presale 3 yaitu Rp. 55.000 dan kemungkinan akan naik untuk pembelian OTS. Mengenai pemesanan tiket PMKT XXIII dan segala update mengenai keberlangsungan acara, lebih lanjut dapat dililhat pada akun media sosial instagram @pmktxxiii. Jadi sampai jumpa di Saparua tanggal 27 April 2019, Junkie!

The Sounds Project Vol. 4 “Festival dari Generasi Muda, dan untuk Generasi Muda”

The Sounds Project Vol. 4 telah sukses terlaksana terlihat dari sold out- nya tiket yang terjual. Dalam kurun waktu dua hari, The Sounds Project berhasil membawa sekitar 12.000 orang penikmat dan penggila musik untuk berpesta pada hari Jumat, 22 Maret dan Sabtu, 23 Maret 2019. Jika diperhatikan, animo penonton yang membludak ini dipenuhi oleh muda-mudi kisaran umur 17-25 tahun dengan pakaian yang bisa dibilang tidak terlalu memperhatikan style tapi terlihat nyaman. Bukan hanya anak muda, bapak dan ibu juga turut hadir meramaikan tapi tetap terasa muda, mungkin energi muda.

Pada hari pertama perhelatan The Sounds Project Vol. 4 dibuka oleh penampilan musisi folk yang sudah cukup senior, Adhitia Sofyan di atas stage The Sounds Project X Authenticity di P6. Selain Adhitia Sofyan, beberapa musisi lintas genre juga ikut meramaikan panggung P6 seperti Kurosuke, Bam Mastro, Mocca, Reality Club, dan penampilan grup soulful jazz asal taiwan Sunset Rollercoaster, lalu ditutup dengan set manis oleh duo DJ pelestari music dansa Indonesia Diskoria Selekta. Mereka semua berhasil menggetarkan panggung P6, Area Parkir yang disulap menjadi area konser menambah panasnya suasana, jarak antara penonton dan musisi yang tidak terpisah barikade membuat atmosfer keintiman begitu terasa.

Stage utama The Sounds Project Stage yang berada di P7 sudah padat sejak sore hari karena ada quartet idola remaja ibukota HIVI! yang didaulat sebagai pembuka, dilanjut oleh solois muda baru nan-jenius Pamungkas, lalu ada unit pop White Shoes and The Couples Company, disambung oleh penampil-penampil yang namanya sangat melekat di lifestyle festival ibukota yaitu Kunto Aji dan Maliq & D’essentials. Setalah maliq, penonton terbukti sangat bernostalgia dalam set Project Pop, yang setelahnya ditutup dengan sangat manis oleh penampilan Fourtwnty. Menyaksikan band yang tampil di stage utama The Sounds Project adalah mimpi indah yang menjadi nyata untuk sebagian besar penikmat musik yang hadir.

Berlanjut ke hari kedua pagelaran The Sounds Project Vol. 4 yang tidak kalah padatnya dengan hari pertama, wanita cantik dengan suara emasnya, Danilla, sukses mengundang para audience yang didominasi kaum adam untuk memenuhi area stage P6. Kemudian dilanjutkan oleh unit rock asal tangerang dan yogyakarta The Cat Police & Grrrl Gang. .Feast sebagai nama yang sedang panas-panas nya dikalangan anak muda saat ini berhasil “membakar” stage The Sounds Project saat itu, mereka yang dengan spesialnya mengajak Fauzan Lubis (Vokalis Sisitipsi) untuk tampil bersama. Seakan sedikit diistirahatkan, tempo dilambatkan oleh “dakwah” dari musisi folk Jakarta Jason Ranti. The Upstairs tak mau kalah dengan kejutannya yang membawa David Bayu (Vokalis Naif) naik ke atas panggung untuk menyanyikan tembang sidestream legendaris “Matraman”, lalu ada Naif dengan repertoar hitsnya yang tak lekang oleh waktu, dan ditutup dengan band dirty jazz asal Jakarta, Sisitipsi. dengan tembang rakyat andalan mereka, Alkohol.

Beralih ke panggung P7, The Sounds Project dibuka dengan musik magis yang sukses menyihir para audience dari Stars & Rabbit. Kemudian disambung oleh unit hard rock asal bandung The SIGIT, lalu Barasuara memberikan penampilan special berkolaborasi dengan seniman visual ternama Indonesia, Isha Hening, audience dimanjakan oleh pengalaman audio dan visual yang luar biasa di set Barasuara. The Adams menggeber crowd dengan tembang-tembang andalan mereka dari album teranyar Agterplaas. Belum selesai sampai disitu saja Summer Salt sebagai salah satu penampil internasional yang cukup spesial, berhasil memberikan usa-beach-summer-vibes untuk para audience mereka di Indonesia. Nostalgia dibawakan pada set Jamrud, ballroom dan stage bergetar, pecah haru dan tangis juga terjadi saat mereka membawakan tembang legendaris “Pelangi Di Matamu”. Setelah itu joget-massal yang dilakukan audience saat set penutup dari NDX AKA seakan-akan membuktikan bahwa dangdut adalah musik yang bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. 

Melalui Program Music Talks audience bisa menambah ilmu mengenai industri dan dunia permusikan, Music Talks selama 2 hari dimoderatori dengan cerdas oleh Aldila Karina dari Demajors & Synchronize Festival, beberapa pembicara yang silih-berganti memberikan suplai edukasi kepada audience adalah nama-nama besar yang sudah tidak asing lagi di telinga para pelaku industri musik seperti Davian Akbar (Fotografer Barasuara), Melina Anggraini(Fotografer .Feast), Gerhana Banyubiru (The Sounds Project), Novaldi Alghani (Magical Feeeling), Argia Adhindhanendra (Noisewhore), Kenneth Ibrahim (9th Music Gallery), Xandega Tahajuansya (Studiorama), Grrrl Gang, The Cat Police , Baskara Putra (.Feast), dan Fauzan Lubis (Sisitipsi). Setelah sesi Music Talks, tempat tersebut disulap menjadi tempat Movie Screening. Para audience yang hadir dapat menikmati film-film pop-culture sekaligus rehat sejenak jika lelah karena memburu penampilan dari musisi-musisi favorit.

Tidak jauh dari area Music Talks dan Movie Screening, kita bisa melihat banyak orang yang bergoyang dan memadati Joget Stage. Stage tambahan yang memang didesain untuk mereka yang gila-dansa ini menampilkan para pemandu lagu-pemantik pesta dari beragam genre dan sub-kultur di Jakarta, mereka adalah Dizkorea dan Feel Koplo pada hari Jumat serta Soyokaze, Muda Mudi, dan Mr. Nostalgila pada hari Sabtu. Berkumpulnya aliran musik dalam satu acara ini menghadirkan kenangan yang sulit dilupakan bagi penonton yang hadir.

Sejak hari pertama hingga hari kedua, para pelesir musik disuguhkan dengan pemandangan gedung pencakar langit yang menghiasi di sekitaran Kuningan City. Sehingga, rasanya sebagai penonton, untuk mengejar artis favorit dari P6 ke P7 bukan sebuah masalah. Bukan hanya itu, antusiasme penonton yang hadir juga menambah ‘greget’ setiap bintang tamu yang bermain di atas panggung The Sounds Project terbukti sukses memberikan hiburan kepada ribuan pengunjung yang didominasi oleh para generasi millenials pada dua hari penyelenggaraannya, di tengah maraknya beragam festival sekarang, The Sounds Project bisa menjadi salah satu benchmark dan referensi untuk para generasi muda agar lebih berani berkarya, dan bisa menjadi trigger untuk munculnya festival-festival baru. Mengutip perkataan dari Project Director The Sounds Project – Gerhana Banyubiru “Kita ingin setelah ini lebih banyak lagi festival yg dibikin sama anak muda selain thesoundsproject, gak harus dari kalangan professional, kita cuma ingin lebih banyak lagi anak muda yang berani bikin festival dan berani create something, gak cuma sekedar jadi penonton aja.”

(PRESS RELEASE) THE SOUNDS PROJECT VOL. 4 “Music Over Matter”

Menghadirkan 27 musisi tanah air dan 2 musisi mancanegara,

Sunset Rollercoaster (Taiwan) dan Summer Salt (USA).

Bertempat di Kuningan City, Jakarta Selatan, 22-23 Maret 2019.

Festival musik alternatif yang diselenggarakan setiap tahun secara rutin oleh para generasi muda kini kembali hadir! Di awal tahun 2019, The Sounds Project memasuki tahun keempatnya dengan membawa berbagai kejutan baru. The Sounds Project Vol. 4 kali ini mengusung tagline “Music Over Matter” yang memiliki makna bahwa musik melebihi segalanya. Musik kini telah masuk ke segala aspek kehidupan dan dapat mewakili perasaan seseorang hingga dapat mempengaruhi jalan hidupnya. Kehadiran suatu festival musik dapat memberikan berbagai inspirasi positif ditengah konten negatif yang marak terjadi di generasi muda sekarang. Gagasan inilah yang kemudian menjadi pondasi utama untuk menghadirkan musik-musik berkualitas yang dikemas menjadi kesatuan festival alternatif penuh konten dan kaya akan atmosfer positif. Tahun ini, The Sounds Project melakukan ekspansi menjadi 2 hari yaitu pada Jumat dan Sabtu, 22 dan 23 Maret 2019, dengan berbagai jajaran musisi berkualitas dari dalam dan luar negeri.

Melalui akun resmi media sosial Instagram, The Sounds Project telah mengumumkan 29 jajaran pengisi acara ternama yang terbagi di dua hari penyelenggaraan. Pada hari pertama, Jumat, 22 Maret 2019, Adhitia Sofyan, Bam Mastro, Diskoria, Fourtwnty, HIVI!, Kunto Aji, Kurosuke, Maliq & D’Essentials, Mocca, Pamungkas, Project Pop, Reality Club, Sunset Rollercoaster, serta White Shoes & The Couples Company siap untuk menggempur panggung The Sounds Project Vol.4.


Menyempurnakan pergelaran hari pertama, di hari kedua Sabtu, 23 Maret 2019, sejumlah jajaran pengisi acara berkualitas kembali akan disuguhkan kepada para pencinta musik yang hadir mulai dari Barasuara yang melakukan kolaborasi visual spesial dengan Isha Hening, Naif, Danilla, .Feast, G r r r l G a n g , Jamrud, Jason Ranti, NDX AKA, Sisitipsi, Stars and Rabbit, Summer Salt, The Cat Police, The Adams, The S.I.G.I.T, hingga The Upstairs.

Tak hanya menyajikan penampilan musik, The Sounds Project Vol. 4 juga akan memberikan berbagai aktivitas serta edukasi di area festival. Pengunjung dapat menyimak berbagai ilmu dalam program Music Talks bersama pelaku aktif di industri music sidestream ataupun mainstream sekarang. Program ini kemudian akan terbagi ke dalam dua sesi di hari pertama dan dua sesi di hari kedua.

The Sounds Project vol. 4 juga akan menghibur dan memanjakan pengunjung yang hadir dengan berbagai instalasi seni dari mulai mural,UV Room experience sampai visual mapping yang dapat digunakan untuk ber-swafoto, Karaoke Box untuk melepas lelah sejenak sambil menunggu penampil kesayangan, serta berbagai aktivitas lainnya seperti Music Market dan Movie Area yang dapat menambah pengalaman seru berkunjung ke festival ini.

Informasi terkait pemesanan tiket dapat dilakukan dengan menghubungi contact person yang ada di instagram @thesoundsproject. Pembelian melalui website http://www.thesoundsproject.com/ juga sangat disarankan. Tiket yang saat ini masih tersedia adalah kategori Regular dengan harga Rp 400.000,- untuk tiket 2 Days Pass dan Rp 230.000,- untuk tiket Daily Pass. Tiket dengan kategori Daily Early Entry juga tersedia dengan harga Rp 150.000,- melalui kedua cara pembelian di atas.

Penasaran dengan kejutan lain yang akan disajikan di The Sounds Project vol. 4? Pantau terus akun media sosial The Sounds Project Vol. 4 untuk mengikuti perkembangannya, dan sampai jumpa di tanggal 22-23 Maret ini Junkie!