ZANZIBAR OPERA, BAND BARU NONGOL KEMARIN SORE TAPI LEGIT.

Oleh Alan Ahmad

Hati-hati kejauhan, musiknya agak trippy rock gitu soalnya~

Kota Bandung tercinta lagi-lagi tak henti memunculkan talenta-talenta baru dalam industri musik, kali ini muncul band beranggotakan 5 pemuda nyaris teler tiap manggung asli tanah priangan. Mereka ingin disebut Zanzibar Opera.

Band aliran psychedelic-progressive rock ini baru saja mengeluarkan single terbaru mereka berjudul ‘Cuan’. Mengimplementasikan keresahan grup beranggotakan Shakti, Gavin, Akbar, Sendy, dan Dekol terhadap para pembaca peluang ulung terhadap celah celah perduitan masa kini.

Musik yang cukup kompleks, dengan nyanyian lirik ringan, cocok-cocok aja buat sing along (meskipun band ini belum beken, baru aja nongol kan). Setidaknya ada beberapa partisi berbeda dalam lagu mereka ini. Menggunakan 4 instrumen berbeda dalam karya band-band-an mereka, gitar (Shakti & Gavin), bass (Sendy), synthesizer (Akbar), dan drum (Dekol) menjadikan iringan ‘cuan’ cukup komplet dalam hal instrumen & musikalitas.

Meskipun tergolong grup baru dalam skena musik rock tanah air, mereka patut diperhitungkan dan live performance merekapun cukup oke, sekalipun dalam keadaan setengah teler (wajar, skena musik rock memang begitu, yang penting bukan teler karena power glue). Tak cukup juga sampai di ‘cuan’, rencananya band yang berbasis di Cicendo, Bandung ini akan merlilis lagi single lainnya dalam waktu dekat. Tunggu saja.

Makan ga makan, yang penting cuan, gitu ‘kan slogan kamu? Enjoy Zanzibar Opera!

Zanzibar Opera – Cuan.3gp

SCENE EMO DAN AKUISISI BIAR (KESANNYA) EKSKLUSIF

Oleh Alan Ahmad

Bawa skena ke ranah hukum? Ide bagus! Biar bisa dimonopoli, agar semuanya berbayar~

Kangen sama My Chemical Romance? sayang sekali band tersebut bubar jalan sejak beberapa tahun kemarin, meskipun ada desas-desus band pentolan Gerard Way akan reunian lagi sama Ray Toro, Frank Iero, bassist-nya Mikey Way, dan drummer Bob Bryar. Atau mungkin ada yang rindu sing along pake lagu The Bird And The Worm-nya The Used, atau lagi pengen nostalgia lagi sama band macem Alone At Last? juga Killing Me Inside-nya Onadio, dan band-band lainnya dengan warna musik yang sama?

Jadi inget tahun 2000an, dimana anak-anak muda pada zaman itu punya potongan rambut poni yang nutupin mata (atau bahkan sampe dagu), pakaian hitam-hitam ngetat dengan aksen-aksen gothic dan juga sepatu Macbeth. Ya, setelan dan musiknya sempat bikin heboh orang tua kita, pada masanya. Sampai-sampai guru-guru di sekolah pernah ngecap anak emo tuh anak-anak berandalan, dan/atau bahkan dicap pemuda setan! Ngeri, tapi keren, tapi ngeri.

Baru-baru ini ada segelintir oknum (sebut saja mereka tim mawar) yang dengan hebat dan gagahnya mengklaim nama kegiatan Emo Night itu adalah hak cipta mereka, segala kegiatan scene emo yang menggunakan nama Emo Night atau Emo Night JKT otomatis menjadi hak mereka pribadi. Hebat sih, yang penting pede biar dapet cuan banyak mungkin. Teman-teman dari Crowd Surfers ID juga punya klaim kalo scene Emo Night dan Emo Night JKT ini adalah hasil “working out” mereka sejak dua tahun ke belakang.
Wih keren!
Lebih hebatnya lagi, mereka mengeluarkan pernyataan seperti ini:
and if other people still wanna use them (nama Emo Night/Emo Night JKT, red.) then let’s do it baby we know the law.”
Gagah kan? jadi takut, jangan-jangan mereka itu kelompok illuminati yang ingin memonopoli segala aktivitas percuanan skena di sana-sini. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka adalah ormas garis keras yang didanai sama tokoh-tokoh berpengaruh? ngeri boskuu~

ngapa diapus, boskuu?

Biar begitu, kita ambil positifnya aja. Mungkin teman-teman dari Crowd Surfers memang ingin dapet cuan banyak dari klaim hak cipta Emo Night buat menanam banyak pohon seperti pornhub, atau mungkin abang-abang dan mpok-mpok ini punya banyak kebutuhan, mengingat apa-apa mahal sekarang karena rezim. Atau mungkin juga sebenarnya bro dan sis ini lagi punya niat mulia, seperti ngeberangkatin orang tua masing-masing untuk pergi haji. Semuanya mungkin aja, who knows?
Cuma saja kita jadi takut, jangan-jangan kedepannya semua hal yang berbau Emo jadi diklaim semuanya, mulai dari potongan rambut, gaya bermusik, pemutaran lagu Face Down-nya The Red Jumpsuit Apparatus, sampai sepatu Macbeth punya Mas Tom diakuisisi sama lu pada. Kita gak pernah tau…
Seru, muda-mudi mulai ada yang mengkapitalisasi satu kegiatan tertentu. Bibit-bibit doyan ngeribetin ala birokrasi dalam negeri akibat klaim satu golongan─dalam kasus ini, nama dalam scene musik─bisa dialami lagi didalam urusan skena musik dewasa sekarang, itung-itung nostalgia zaman Pak Harto, lah, isih penak jamanku to?
Pertanyaannya, saat kalian klaim urusan Emo Night/Emo Night JKT ini, kalian udah permisi sama musisi-musisinya? menggunakan karya lagu untuk kepentingan komersil kan harus ada izin dari yang empunya?

Tapi yang dilakukan abang-mpok ini gak salah kok, boleh-boleh saja. Buktinya kan di-approve sama negara. Yaa terserah lu-lu pade, dah.
Meskipun yang mereka lakukan ini bener, tetap saja ora pener (tidak bijak), begitu kata mbah Sudjiwo Tedjo.

So, kapan mau klaim night-night lainnya? Kapan mau klaim hak cipta nama Dangdut Night? kasian, musik khas nusantara selalu saja dianaktirikan sama muda-mudi. Atau mau klaim juga Organ Tunggal Night?
Silakan aja, asal anda untung.
Kalo yang lain buntung?
Sukurin~

AMIN PALING SERIUS, KARYA SAL PRIADI DAN NADIN AMIZAH. YAKIN MAU DISERIUSIN?

Oleh Alan Ahmad

Musisi asal Malang ini cemerlang memang.

Tepat 29 Mei 2019 belantika musik negeri bertambah warna dengan terbitnya ‘Amin Paling Serius’ karya Sal Priadi yang ditemani Nadin Amizah dalam proyek singel elegan santun. Pecinta musik mellow melodis pasti doyan dengan karya satu ini.

‘Amin Paling Serius’ sedikit-banyaknya menceritakan tentang kisah asmara pria dan wanita yang berlatar belakang saling berkontradiksi. Keduanya memanjatkan segala harapan dengan amin paling serius untuk perjalanan cinta mereka berdua, gitu sih katanya.

Cerdas juga nih mas Sal ngajakinnya mbak Nadin. Output karyanya juga sepertinya seperti judulnya, serius. Cocok buat muda-mudi yang lagi/akan menjalin cinta dengan segala keruwetan dan geli-geli nikmat-nya, kualitas suaranya pun gurih-gurih renyah. Kualitas suara vokal keduanya tak perlu diragukan lagi, toh keduanya kan musisi muda berbakat. Apalagi Sal priadi ini pernah dapat nominasi AMI Awards, lebih tepatnya tahun lalu. Cocok untuk vibes pasangan yang lagi berduaan di kendaraan sambil denger lagunya di platform musik streaming (ya, ‘Amin Paling Serius tentu bisa didengar di apps-apps streaming favoritmu!). Atau juga saat lagi manja-manjaan di kamar kosan berdua (jangan lupa pakai pengaman, bro & sis).

Ditunggu karya selanjutnya, semoga keseriusan kalian berlanjut. mas Amin, eh mas Sal. Kami hanya punya satu pertanyaan untuk mas Sal dan mbak Nadin ini, Jika lagu kalian adalah Amin Paling Serius, lantas Amin yang tidak serius itu seperti gimana? Amin Rais-kah? hehe~

Amin Paling Serius, oleh Sal Priadi & Nadin Amizah~

SIR DANDY: SINGLE BARU YANG SUDAH LAMA DITUNGGU

oleh Alan Ahmad

8 tahun sudah semenjak rilisan karya terakhirnya, Sir Dandy baru-baru ini mengeluarkan single terbaru dengan judul MRT (Mudah-mudahan Ramai Terus).

Musisi kelahiran Bandung ini dibantu oleh nama-nama kawakan dalam pembuatan karyanya. Diproduseri Riko Prayitno (yang juga main gitar dalam lagu ini), diiringi bassis Vincent Rompies, gitaris ternama Petra Sihombing, serta tak lain dan tak bukan, Soleh Solihun.

Dengan dilibatkannya nama-nama tersebut, alunan karya Sir Dandy semakin menghibur, terlebih bagi penggemar setia Sir Dandy, niscaya termanjakan. Makin ciamik lagi karena pada awal dan akhir lagu tersebut pendengar dibuat terhibur dengan humor speech dari Soleh Solihun.

MRT (Mudah-mudahan Ramai Terus) sudah bisa didengarkan di platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube, Deezer,dan kanal-kanal lainnya per 25 April 2019.

Sir Dandy – MRT (Mudah-mudahan Ramai Terus)

Kami lampirkan juga lirik lagu dari MRT karya Sir Dandy. Cocok buat sing along~

*****

Assalamu’ alaykum warrahmatullahi wabarakatu
selamat datang, para penumpang
di dalam em ar ti, asuhan Sir Dandy
terima kasih telah naik em ar ti
dan membantu mengurangi polusi
terima kasih juga kepada para pengendara mobil
yang sudah menyimpan mobilnya
dan memilih naik em ar ti
meskipun cicilan mobil masih harus anda bayar
setidaknya, uang bensin dikurangi
semoga selamat sampai tujuan
ingat, keluarga menanti
yang belum punya keluarga, yaa sabar saja
karena, stasiun sudah pasti menanti

problema hidup di jkt
habis waktumu di jalan raya
kita tak diberikan banyak pilihan
semua angkutan bikin tua dijalan

tapi jangan berkecil hati
apalagi sampai frustrasi
meskipun baru sampai bunderan HI
yang penting sudah mulai ada solusi

em ar ti em ar ti
kita punya em ar ti
puluhan tahun menanti
akhirnya jadi

em ar ti em ar ti
kita punya em ar ti
ide dari paha bibi
dieksekusi jokowi

o o o-jek dan taksi onlen
sedikit memang, memberikan bantuan
tapi bisa bertahan sampai kapan?
orang sudah kebulan, kita masih disetopan

tak seperti diluar negri
moda transportasinya tertata rapi
maklum namanya juga negara berkembang
gapapa telat yang penting kita senang

em ar ti em ar ti
kita punya em ar ti
kontroversi sana sini
akhirnya jadi

em ar ti em ar ti
kereta masa kini
komedi dan selebriti, rebutan selfie~

*****

SPASIAL FO(U)R YEARS. UJUNG PERJALANAN SPESIAL DARI SPASIAL

Oleh Alan Ahmad

Kabar haru untuk para penggiat industri kreatif di Bandung, karena kita harus berpisah dengan Spasial. Ya, venue industri kreatif ikonik ini tak lagi beroperasi dan dengan berat hati harus mengucapkan selamat tinggal pada Spasial per 1 Mei 2019.

instagram.com/spasial

Mereka-mereka (orang-orang Spasial) ini memiliki tujuan untuk menghubungkan banyak manusia di satu tempat (yang tepat) juga memberdayakan khalayak yang terlibat didalamnya. Selama 4 tahun ini Spasial telah melibatkan banyak individu maupun kelompok dari berbagai macam latar belakang. Komunitas, badan usaha kreatif, dan institusi akademik, semua pernah menjadi bagian dari Spasial, begitupun sebaliknya. Tujuan mulia ini berhasil, meskipun dengan sangat berat hati harus berakhir prematur.

instagram.com/spasial

Tak akan kita lupakan banyak hal yang sudah dibuat disana. Video klip Kunto Aji ‘Topik Semalam’, showcase Komunal, release party ‘Mabuk Laut’ The Panturas adalah sedikit dari ratusan cerita yang terpatri di ingatan kita semua.

videografer eksentrik Fluxcup dalam pembuatan video klip Kunto Aji ‘Topik Semalam’ sumber: instagram.com/spasial

Venue yang beralamat di jalan Gudang Selatan nomer 22 beroperasi sejak april 2015 telah banyak merekam lebih dari 300 kegiatan seni, pameran, talkshows, fairs, pasar yang juga melibatkan lebih dari 100 komunitas, mitra, dan juga talenta-talenta kreatif kota kembang. Pencapaian tak biasa, hasil giat yang tak akan ada lagi penggantinya. Terimakasih Spasial, untuk 4 tahun yang spesial!

[INTERVIEW] FEEL KOPLO: AWAS! INI KOPLO BUKAN SEMBARANG KOPLO

Ranah skena lagi-lagi gak ada habisnya. Hal yang menarik, setelah DISKORIA SELEKTA yang mempunyai tujuan mempopulerkan kembali lagu-lagu Indonesia di tempat klabing, kali ini hadir FEEL KOPLO dengan sentuhan magical koplofy nya mampu menghipnotis dede-dede Indie doyan ngeksis yang tak lagi minder ketika memposting Instastories dengan backsound musik koplo.

Dimulai tahun 2018 secara tidak sengaja dan mempunyai misi menghapus stigma bahwa mendengarkan  musik dangdut adalah hal yang memalukan, Feel Koplo tampaknya sukses melakukan misi itu, sebagai contoh mereka mendapatkan respon positif dari band luar negeri bahkan band punk yang terkenal menyeramkan luluh dengan karya mereka.


Simak hasil wawancara salahsatu oknum junkie, Herry Ginanjar dengan dua pemuda asal Bandung ini.

******

Herry: Perkenalan dong siapa aja kalian?

IKSAN: saya Iksan suka dipanggil Tempe,  punya orkes dangdut namaya SYMPHONI POLYPONIC

TENDY: saya tendy, saya introvert. Hahaha.

H: Pertanyaan pertama mendasar, awal mulanya bisa jadi Feel Koplo itu gimana?

I: Awalnya, sih,  dari ke tidak sengajaan saya yang disuruh jadi disc jokey selector todong oleh JUNKS RADIO buat bikin rame booth aktivasi mereka di salah satu festival musik di Bandung. Meski gak punya basic DJ dan punya alasan yang paling masuk akal yaitu biar bisa nonton festival musik gratis, akhirnya dengan berat hati saya memberanikan diri untuk tampil dengan cara yang gak biasa, saya yang punya kesenangan  lagu dangdut akhirnya mencari lagu-lagu yang mempunyai beat-beat dangdut seperti KOPLO dan BREAKBEAT, lalu dibikin tuh playlist dan pede aja muter playlist itu, eh, ternyata seru sampe ditegor sama panitia karena bikin gaduh band yang lagi perform hahaha. Dari situ pas mau tidur kepikiran pengen bikin project ini, kemudian besoknya pas mau ngambil izajah ke kampus ketemu si Tendi.

T: Iya saya tuh dulu sempet nge-produce lagu-lagu techno tapi vakum lama pisan. Eh ketemu si Iksan dan nanya  “Ten, bisa gak nge-remix lagu-lagu anti mainstream atau lagu indie jadi dangdut koplo?” saya jawab bisa, karena antusias besoknya hasil remix-an sayajadi dan lagu pertama yang dibikin tuh dari TEN2FIVE. Alasan si Iksan pilih lagu anti mainstream atau lagu-lagu indie juga karena kalo lagu Top 40 di daerah Jatim atau Jateng juga udah ada.

H: Kalo diperhatiin dari awal, FEEL KOPLO tuh Cuma satu orang, eh ada Tendy ternyata. Jadi sebenernya FEEL KOPLO berdua tuh tugasnya masing-masing apa aja?

T: Saya sih lebih dibelakang panggungnya, kaya bikin remix ngatur set list dan lain-lain.

I: Nah, iya. Kalo digambarin secara general Tendy bagian musik dan saya bagian visual, kalo saya yang bikin rame dipanggung dan bikin video yang ada di Youtube itu tuh ngedit visual-visual videonya sama saya. Pas manggung pertama juga gitu kan, Tendy bagian ngatur flow dan saya garda depan biar yang nonton lebih rame lah.

H: Terus, manggung pertama kalian di event mana dan respon dari orang-orang gimana?

I: Panggung pertama juga karena diajakin dari event temen, Namanya PESTA RAKYAT, hasil videonya cobain masukin youtube, eh, responnya bagus pisan ternyata datangnya gak cuma dari Bandung, tapi dari luar kota juga. Terus event selanjutnya diajakin deh sama KOLEKTIP NGAWUR, kebetulan satu panggung sama THE PANTURAS,ya…. sekalian aja remix lagu mereka. Dari 2 event itu, masukin youtube, dan the power of medsos ternyata responnya “gila”, sampe sekarang akhirnya bisa main di club-club “gaul” Bandung, padahal kita teh sempet mau perform disana tapi ditolak mentah-mentah karena takut image club nya jelek padahal mah kita bukan dangdut yang sembarang dangdut, hahaha. Dan kita juga pengen bawa pesan biar anak muda sekarang gak malu buat dengerin dangdut dengan alasan bahwasanya dangdut is the music of my country.

T: Betul! Lama-lama kita juga jadi gamau pake lagu-lagu remix-an hasil orang lain, kita mah bawain dan remix lagu yang kita suka aja. Itu sih yang coba FEEL KOPLO terapin.

H: Nyinggung masalah remix, nih, ya. Pengerjaan atau proses bikin remix dari sebuah lagu itu lama gak? terus, seberapa besar susahnya?

T: Jadi kalo pengerjaan remix itu tergantung mood sebenernya, malah lagu everytime punya BOY PABLO bikinnya dua jam sebelum manggung hahaha, tapi ada juga lagu yang bikinnya berminggu-minggu karena rasa malas melanda. Kalo bicara susah atau gak nya itu, sih, variatif  tergantung lagunya misalkan nyari part-part mana aja, nih, yang enak dimasukin feel koplonya.

H: Lagu-lagu yang udah kalian remix ada apa aja? Terus respon dari yang punya lagu gimana?

I: Hasil lagu yang udah kita remix ada dari: John mayer, Feast, Closehead, dan band punk Tcukimay. Respon dari mereka positif semua sih. kalo dari talent luar negri ada keyboardis BOY PABLO komen di postingan feel koplo bilang “you guys awesome” & ada dari FUR repost instastories pribadi dengan tulisan “someone explain to me, pelase!” lalu, sama kita di DM dan mereka dan bales “all good” kalo dari lokal ada TCUKIMAY dan CLOSEHEAD

H: Jadi, kira-kira lagu yang udah dibikin sama FEEL KOPLO berapa lagu?

T: Setlist kita udah bikin lebih dari 50 lagu, tapi kita juga pilih-pilih setlist lagu sih untuk diputer karena ga semua penonton atau yang ngundang kita suka dengan semua lagu yang kita remix. Kaya waktu ada pensi SMA kita bawain lagu EMO koplo mereka diem-diem aja hahaha.

H: Urusan manggung, kalian tuh sekarang udah manggung dimana aja?

I: Wah alhamdulilah sih  sekarang kita banyak panggilan manggung, udah ke Malang, Bekasi, & Jakarta. Udah rame lah.

H: Kalau pengalaman manggung sampai sekarang yang paling keinget dimana ya?

I: Di Ding dong Bar, Jakarta. Di Acara itu juga ada anak-anak Ruru radio dan kagetnya sampai over capacity, karena promonya yang rame juga sih dibantu sama akun-akun shitposting. Disitu kita ada kejadian lucu, Feel Koplo disangka dari Jakarta hahaha.

H: Manggung udah sering, berarti sekarang udah ada manager dan lain-lain dong?

T: Kita udah ada manager dan roadman nyambil videographer. ya  meski penampilan dan konten kita humor tapi kalo profesionalitas mah harus.

H: Ada permintaan aneh-aneh gak kalo ngundang Feel koplo?

I: Gak aneh-aneh sih kita mah dan semoga aja gak ada, karena kita juga pernah jadi LO pas SMA dan ngerasain  gimana ribetnya. Paling kalo permintaan khusus cuma minuman kopi kaleng  yang ada di minimart.

H: Setelah manggung sana-sini, pasti dong ada bosennya. ada yang mau dirilis lagi kah sekarang atau ada info-info lain dari Feel Koplo?

T: Banyak banget yang mau dibikin, kayanya bulan puasa sambil khusu ibadah sambil nabung bikin karya. Baru deh abis lebaran dikeluarin, Selain itu kita juga pengen bikin original remake lagu dengan izin ke yang punya lagunya.

H: Kalo Junkie mau dengerin karya remix kalian dimana?

I: Ada di Youtube kita dan kalo yang lebih lengkap mah dateng aja ke event yang ada kita nya, nanti gratis foto sama aku, haha

*****

Nah buat Junkie yang penasaran dengan mereka bisa langsung ke Instagramnya @feelkoplo atau mau nikmatin karya mereka bisa melalui link youtube: https://www.youtube.com/channel/UCQ0LleJBqq9okslRZbAAX2A #SalamKoplofy #AwasDangdut

PAMERAN BINAR: KARYA, KRIYA, KULINER, DAN SENI MEJENG

Oleh Rian Sting

Selasar Sunaryo dibuat cukup ramai dan meriah beberapa waktu kemarin. Pasalnya, muda-mudi kriya Institut Teknologi Bandung menyelenggarakan pameran bertajuk kriya eksperimental. Sebuah pameran unik dan jelas memiliki daya tarik tersendiri dibanding kegiatan-kegiatan pameran yang biasanya gitu-gitu aja.

Pameran yang berlangsung selama 3 hari (29-31 Maret 2019) menyuguhkan ragam karya seni tak biasa. Satu dari beberapa hal yang tak biasa ini adalah fashion show yang menggunakan makhluk unggas sebagai peraganya. Dan ini adalah salahsatu esensi ‘pamer’ sesungguhnya dari sebuah pameran, pamer sensasi, setidaknya itu yang berhasil digagas dari para mahasiswa kreatif kriya ITB.

Dalam kegiatan pameran tersebut juga panitia menghadirkan beberapa pembicara ahli dalam urusan kriya dan karya. Turut diundang beberapa nama seperti Erik Pauhrizi, seniman Bumi Priangan, Eko Nurseto, ahli antropologi Unpad, dan juga Yan-yan Sunarya, expertise batik nusantara. Pengunjung, penikmat, dan juga pengamat sedikit-banyak tercerahkan dari kuliah santai yang mereka bawakan.

Belum beres darisana, pengunjung masih disuguhkan karya-karya otentik di ruang workshop. Tak cuma satu-dua benda seni yang dipamerkan, melainkan belasan. Salahsatu yang menarik perhatian adalah sebuah kolase manusia tanah jawa yang dibuat dari bahan makanan, yaitu sosis solo.

Tak hanya kolase, banyak pilihan benda seni untuk dimahar (ya, semua benda seni di pameran ini diperjualbelikan)

Belum cukup pamer benda seni, Muda-mudi kriya ITB juga rupanya ahli pamer kemampuan memasak. Mahasiswa/i doyan pamer ini menyuguhkan mulai dari Mie Kocok, Bajigur, Crepes, dan raja terakhir, gehu (akronim dari toge jeung tahu, bukan toge yang konotasinya porno).

Sama seperti gigs musik, Pameran Binar adalah kegiatan berkala yg diselenggarakan setiap tahun. Dan Pameran Binar cocok untuk cuci mata bagi yang doyan mentengin karya seni, makan-makan, dan/atau ngeliatin cewek-cewek bening (sumpah, banyak!).
Sampai jumpa di Pameran Binar tahun depan~

CONNAN MOCKASIN, GIGS INTIM NAN MERIAH

Oleh Hutomo Wicaksono

2 april 2019 hari Selasa menjadi hari yang berbeda dengan hari lainnya, hari dimana saya biasanya siaran program After Sunset setiap pukul 19.00 – 20.30, sekarang malah asik menikmati konser yang dibuat oleh rekan-rekan pppost95 entertainment yang menyajikan hiburan musik oleh Pijar asal Jakarta, Golden Mammoth, band negara tetangga (Malaysia), lalu yang terakhir Connan Mockasin (Selandia Baru). Oh iya, saya hampir lupa bahwa acara ini diselenggarakan di Rossi Musik yang berada di Jl. RS Fatmawati No.30. Kemacetan lazim terjadi dikota ini sehingga saya pun harus menunggu lama dalam perjalanan yang akhirnya harus melewatkan penampilan Pijar sebagai penampil pertama dan dilanjutkan oleh Golden Mamoth yang bisa saya nikmati pada tiga lagu terakhir. Dengan suasana yang hangat, acarapun semakin meriah karena band yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pengunjung yaitu Connan Mockasin bersiap-siap untuk melanjutkan keberlangsungan acara. Acara ini, menurut saya bukan hanya sekadar gigs musik biasa yang menghadirkan pertunjukan unik dan berbeda, rugi lah mereka yang tidak menonton dan hanya dapat oleh-oleh berupa cerita belaka dari kawan-kawannya.
Kenapa bisa dibilang berbeda? Hal itu karena Connan sangat baik dalam mengatur flow penonton. Musisi dengan nama asli Connan Tant Hosford itu bermain gitar bersama dengan penonton hingga turun dari panggung dan meminta penonton duduk, membangun suasana keintiman dengan para penikmat yang hadir di Rossi Musik yang lebih seru lagi, Connan menyuruh penonton agar membuat dua barisan yang tengahnya dikosongkan laiknya mosh pit dalam konser metal. Dimaksudkan agar penonton melakukan slow dance dengan pasangannya didalam barisan yang kosong tersebut. Connan bermain sangat rapi walaupun sedikit lali karena seharusnya lagu yang ia bawakan pada lagu ke tujuh adalah lagu yang seharusnya dibawakan sebagai lagu penutup, namun hal itu bukan masalah mengingat musisi asal Te Awanga, Selandia Baru itu berhasil membius penonton dengan aksi panggungnya.

Sedikit cerita ketika saya menunggu Connan mulai, saya melihat-lihat booth merchandise dari Golden Mamoth. Ada pula merchandise konser Connan Mockasins, dan yang terakhir saya melihat penjaja kesegaran berwarna ungu yang saya cari-cari sebagai teman merokok. Sayang saya tidak dapat kesegaran tersebut karena keburu habis namun untungnya ada kawan yang bawa dari Bandung, hehehe. Pada acara ini saya dapat melihat perbedaan-perbedaan orang menikmati konser. Ada orang yang menikmati konser dengan mengejar dan merapatkan barisan paling depan agar dapat bertatap langsung dengan sang idola, lalu ada juga yang menikmati di barisan belakang penonton mungkin karena tidak ingin sesak atau agar mudah keluar meninggalkan venue.

Diambil Oleh Hutomo Wicaksono

Tahun ini penggiat gigs memang sedang dimanja-dimanjanya. Menyesal karena telah melewatkan beberapa performa menarik para musisi? Semoga di kegiatan selanjutnya tak lagi terlewat.

LOCUS POCUS; PAMERAN VISUAL ART YANG TIDAK MELUPAKAN SISI EDUKASI

Oleh Herry Ginanjar

Akhir bulan maret di 107 Garage room, Bandung tampaknya menjadi “agak” bernuansa cyberpunk, pasalnya pada tanggal (26/3) sampai tanggal (5/4) sekelompok muda-mudi Bandung seperti KANAL CREATOR dan CONVERT TEXTURED membuat kegiatan positif dengan membuat acara LOCUS POCUS, Locus pocus sendiri berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti “mantra di dalam sebuah ruangan”

KANAL CREATOR sebuah platform yang fokus terhadap visual graphics, art installation dan juga educative workshop, di event ini Kanal creator melakukan pendekatan konseptual melalui creator-creator yang terlibat di dalam exhibition yang bertujuan untuk menciptakan suatu peristiwa yang tak terduga dan mengesankan dengan cara mengubah hal-hal terlihat normal menjadi luar biasa. Bekerja sama dengan CONVERT TEXTURED, yaitu sebuah studio design & motion graphic asal Bandung, mereka membuat sesuatu yang mendorong imajinasi pengunjung untuk menciptakan suasana berbau futuristik. namun, merasa tidak ingin lupa dengan balutan Indonesia mereka juga mengajak ORCYWORLD sebagai visual dan performance artist untuk pengaplikasian pada “Jala” sebuah benda yang kental dengan tradisional.

Area 107 GARAGE ROOM pun disulap menjadi tempat bernuansa masa depan. Dibagi menjadi 3 lantai exhibition, Lantai pertama di isi dengan Instalasi “Jala” visual dan infinity mirror sukses membuat pengunjung terkesan dan tentunya menjadi spot foto favorit, sedangkan lantai dua di isi oleh laser dipadukan dengan led strip coding sekaligus dijadikan stage utama untuk pertunjukan musik yang di meriah kan oleh CIRCUIT BISCUIT, ETZA, bahkan band psychedelic asal negri JIRAN GOLDEN MAMMOTH. kemudian lantai 3 di isi oleh black hole neon yang dipadukan dengan instalasi visual logo Convert. Event locus pocus sendiri bukan hanya sekedar exhibition & performance saja tetapi ada sisi edukasi yang setiap hari nya dibagikan kepada pengujung, bahkan pemilihan speakers pun tidak sembarangan, Kanal creator dan Convert mengajak beberapa kolaborasi yang berkaitan dengan visual art dan semacamnya seperti: ADXITA, VIRTUALAB, MOKO DICSOVER, RASAMALA FILM, dan MUSIKATALOG.

“Dengan adanya event ini semoga pengujung bisa memanfaatkan ilmu yang telah di dapatkan nya dan bisa menjadi trigerred untuk viasual artist lainnya agar tidak malu untuk memamerkan karya-karya nya” tutur Aid selaku perwakilan dari Convert

Info Instagram; @kanalcreator & @convert.id

Lalala Festival: Biar Basah, Tetap Nyampah, Semoga Berkah!

“Lalapes a, lalapes!” begitu kira-kira jargon juru parkir agar kendaraan pengunjung tersusun rapi. Festival Musik dengan konsep acara di tengah hutan hujan telah berlalu. Banyak hal masih membekas di hati panitia, pengunjung, maupun pejuang-pejuang bermodalkan gawai dan jari-jari lincah. Lalala Festival menyisakan banyak kesan, baik kesan positif maupun kesan negatif, meskipun kelihatannya lebih banyak kesan negatif, sih.
Bicara soal kesan positif, panitia sukses menggiring muda-mudi dan sedikit orang tua agar hadir ke festival di tengah hutan pinus, tercatat belasan ribu pengunjung datang kesana. Acara pun berjalan dengan lancar & professional (secara teknis), terlepas dari banyaknya keluhan pengunjung. Patut diapresiasi.

jepretan @snawazaki & @gladinasaska
jepretan @snawazaki & @gladinasaska

Sayangnya, kesan negatif lebih banyak dari apresiasi positif. keluhan pertama yang patut jadi sorotan: kualitas sound system amat kurang oke! Untuk sekelas Lalala Festival yang didatangi belasan ribu pengunjung, masa sih kualitas sound-nya segitu doang?

Terus, booth air minum hanya tersedia 2 untuk 15ribu lebih pengunjung. Abis naik-naik ke puncak venue tenggorokan pasti aus, bro. Belum lagi toilet yang disediakan hanya sedikit. Yang mau buang aer gelisah sampai sekitar setengah jam. Untungnya gak ada pengunjung yang ngaburusut di venue. Kalo sampe kejadian, panitia mau tanggung jawab gitu?
Patut disayangkan juga, dengan kondisi di lapangan yang njelimet, crew & panitia hanya bisa planga-plongo. Entah kurang penyuluhan sebelum acara atau belum makan dari pagi. Hanya Tuhan dan panitia yang tahu. Belum lagi hujan, dingin, sendirian, kurang kasih sayang pula. Kasihan.
Belum lagi banyak sampah berserakan di sekitar Orchid Forest. Segala macam sampah ada, Jas Hujan, Puntung Rokok, Botol Plastik, Kaleng-kaleng kratingdong-deng, sampai kenangan nonton bersama mantan kekasih di Lalala tahun lalu berceceran dimana-mana.
Masih belum cukup juga kekecewaan penonton, seberes acara, setelah Honne, Sheila On 7, Joe Hertz, The Internet dll manggung, waktunya istirahat ke kasur masing-masing. Nahas bagi pengunjung, si dia sudah bersama yang lain mereka harus tertahan diperjalanan pulang karena di exit gate, macet parah karena jalan sempit sehingga kendaraan shuttle (menggunakan bus besar) tak bisa jalan kemana-mana. Belum lagi aji mumpung ojek dadakan Warga Kampung Sana, juga mobil-mobil pejabat sok penting menuh-menuhin jalan. Udah tahu sempit.
Antrean shuttle-nya pun gak puguh. Masih banyak pengunjung yang tidak kebagian naik shuttle. Sekitar jam 3.30, terjadi sedikit drama di pertigaan pintu masuk venue, sebagian pengunjung protes karena belum juga kebagian naik bus shuttle. Konon katanya, saat ini para pengunjung kampring tersebut masih menunggu dijemput bus yang tak kunjung datang.

Lalala Festival ini mendapat banyak cibiran di jejaring sosial. Akan oke-oke saja jika netizen yang budiman mengomentari shuttle yang gak puguh, sampah-sampah yang berserakan, toilet yang seadanya, atau juga panitia yang planga-plongo kayak ayam celup, karena memang perkara tersebut yang perlu dikritisi. Di media sosial ada juga netizen yang mengeluhkan venue becek gak karuan. Saran dari kami kalau anda ogah becek ya nonton aja dikamar kost. Ribet amat.
Ada juga orang-orang yang mengeluh capek harus jalan kira-kira 3kilometer-an untuk sampai ke venue. Disini kelihatan orang-orang sini manja & banyak mau. Gini nih kalo orang kaya Indo diajak dateng ke hutan. Lain kali gak usah nonton festival kalau ogah capek, mas/mbak!
Ada pula Netizen yang entah ikut entah enggak mengomentari ekspektasi venue yang bertentangan dengan realita di lapangan. Mereka mencibir lantaran bentuk tanah pijakan pengunjung yang bentuknya gak karuan. Logikanya memang kalo tanah berumput diinjek-injek ribuan orang ya ledok, gan/sis.

Setidaknya, acara Lalala Festival membuat kita mempelajari cukup banyak hal: uang tak bisa membeli ketahanan fisik (kecuali kalau nge-doping) kalau nonton digunung mbok ya gak usah ngeluh, pasti capek dengan segala kemungkinannya. Selanjutnya dikemudian hari panitia bisa memberi training biar crew yg ada di venue gak planga-plongo lagi. Juga di agenda selanjutnya, sebaiknya disediakan tempat sampah yang lebih banyak, agar aman dari kejamnya komentar SJW-SJW liar.

Terakhir, kami tahu pengunjung-pengunjung Lalala Festival yang budiman kecapekan, pegal, juga rungsing. Setidaknya sebagian dari pengunjung yang kebagian dapat menikmati burger & steak dari Suis Butcher dan Brother Jonn&Sons. Berbahagialah yang makan enak disana!

Kontributor: Cies Her

Editor: Rian Sting