Kampanye MUSAT bersama LindungiHutan di Tambakrejo dalam rangka Earth Day 2021!

Mencari tempat nongkrong bisa jadi bukan perkara sulit saat ini. Bagaimana tidak, perkembangan kedai kopi dalam beberapa tahun terakhir ini bisa terlihat semakin marak dan masif. Mulai dari sekedar kedai kecil hingga mereka yang menyediakan pemandangan hijau atau suasana industrial dalam ruangan. Tentunya tak bisa dipungkiri, pemanfaatan coffee shop yang menciptakan ruang komunal modern saat ini dapat memungkinkan berbagai kegiatan dilakukan di satu tempat. Mulai dari sekedar nongkrong untuk menghabiskan waktu, membuat event kecil-kecilan, hingga yang marak dilakukan saat ini adalah ‘Work from Coffee Shop’. 

Melihat dari intensi pemanfaatannya yang menjadi magnet bagi anak muda hingga orang tua. Maka, seharusnya pemilik industri di bidang kopi saat ini memiliki tanggung jawab lebih dalam menciptakan kampanye atau ‘movement’ positif bagi para pelanggannya. Alasannya adalah saat ini coffee shop merupakan pusat dari berbagai aktivitas dari berbagai umur. Jika dulu kita harus pergi ke Indomaret atau Alfamart atau semacamnya untuk membeli majalah, saat ini coffee shop banyak digunakan untuk penempatan majalah. Belum lagi berbagai brand yang membuka pop-up concept store nya di coffee shop semakin menarik berbagai kalangan untuk menciptakan berbagai aktivitas. 

Kami bertemu Danu salah satu pemilik usaha dari Musat, salah satu penggiat bisnis kecil di industri kopi yang baru muncul di tahun 2018. Membawa konsep Urban Inforest serta mematenkan bentuk polygonal di beberapa sudut ruangnya, MUSAT memberikan sentuhan modern sekaligus ‘hutan’ yang jarang ditemui di tempat lainnya. MUSAT yang berawal dari sebuah ‘celetukan’ ini mencoba menciptakan sebuah “sustainable community by reducing single-use plastic, recycling our waste, and ecosystem to connect, collaborate, and create”. Mereka menjalin kerjasama dengan Plastavfall Bank salah satu bank sampah swasta untuk mengelola semua sampah industri dan PD Kebersihan Kota Bandung untuk mengelola tetrapack. Pada akhirnya mereka berusaha memenuhi kewajiban sebagai pemilik industri kecil dan memenuhi moral pribadi, tegasnya.

“Dulu waktu naik gunung tuh puntung rokok pasti disimpen, sedangkan kalo di kota kita asal buang aja. Padahal seharusnya concern ini dibalik, karena kita hidup di kota, kenapa di rumah kita sendiri kita gak ngelakuin itu. Akhirnya kita komitmen lah ketika punya industri ini untuk kontrol limbah setidaknya.” Tambah Danu. 

Dalam rangka merakayan #EarthDay2021 tanggal 22 April lalu, MUSAT berkolaborasi bersama LindungiHutan yang merupakan crowdplanting platform untuk konservasi hutan dan lingkungan. Memiliki tema “Restore our Earth” MUSAT dan LindungiHutan membuat program penggalangan pohon mangrove untuk penghijauan di daerah Tambakrejo. 

About Tambakrejo

Tambakrejo merupakan salah satu desa yang berada di Kota Semarang. Dikenal sebagai desa nelayan, Tambakrejo adalah sebuah doa “Tambak” yang berarti tempat dan “Reja” yang berarti makmur. Namun, sejak belasan tahun terakhir, Tambakrejo mengalami depresiasi tanah yang menyebabkan naiknya air laut di pesisir. Hal tersebut disebabkan dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat setempat sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan di desa tersebut. Setiap tahun garis pantai turun hingga 10cm yang akhirnya mengurangi luas desa karena terjadi abrasi. Belum lagi, banjir Rob yang terjadi tentunya merusak ekosistem kawasan Tambakrejo serta berdampak pada ekonomi, kesehatan, hingga kelangkaan air di Pesisir Semarang. 

Pemilihan Tambakrejo sebagai lokasi konservasi berdasar pada aksi nyata untuk penghijauan serta menghentikan abrasi yang semakin buruk di desa tersebut. MUSAT mengundang para ‘Gorilla Troops’ untuk mencapai target 250 pohon mangrove yang dimulai sejak Bulan Maret. MUSATxLindungiHutan berhasil mengumpulkan total 324 pohon mangrove dari hasil kolektif antara MUSAT dan pelanggan yang datang. Kemudian hasil tersebut dilanjutkan oleh site visit dan planting mangrove oleh MUSAT dan LindungiHutan awal Mei kemarin di Desa Tambakrejo.

Program kolektif antara MUSAT dan pelanggan ini mereka harapkan bisa berlanjut. Pembelian kopi (+5k additional tree) ini adalah aksi nyata dari MUSAT sebagai salah satu coffee shop yang turut concern terhadap isu lingkungan yang akhir-akhir ini mungkin mulai dilupakan oleh pelbagai aktivitas manusia. Sebagai pemilik salah satu industri yang hampir setiap harinya memproduksi sampah untuk kebutuhan operasional, setidaknya pengetahuan akan jenis-jenis sampah menjadi hal lumrah yang perlu diketahui. Walaupun terkesan basi, tapi emang ungkapan ‘Kalo bukan kita, siapa lagi?’ itu emang masih dan semakin terasa nyata. Maka dari itu, melalui media secangkir kopi ini, MUSAT mengajak kita untuk ‘sesantai’ mungkin untuk lebih peduli kepada sekitar. 

Kunjungi Instagram mereka di @memusat & @lindungihutan untuk kabar lebih lanjutnya!

Baca juga ‘Kok Pandemi Membuatku Menjadi Wibu ?’

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here